Perjalanan itu muncul mendadak hari Selasa sore lewat email berjudul:
Client Visit — Bandung Branch
Kevin berdiri di depan meja Nara sambil membawa kopi dingin yang esnya hampir habis.
“Besok bisa ikut?”
“Ke mana?”
“Bandung. Cuma sehari.” Kevin melihat layar ponselnya sebentar. “MindEase mau shooting konten cabang baru.”
Nara ingin bilang tidak.
Tubuhnya masih mudah lelah sejak malam di klinik. Lambungnya kadang masih perih kalau terlalu banyak kopi. Dan ide pergi bersama orang kantor selama berjam-jam terdengar seperti bentuk hukuman modern.
“Siapa aja?”
“Gue. Lo. Mira. Sama videografer freelance.”
Nara diam beberapa detik terlalu lama.
Kevin langsung menambahkan, “Kalau lo nggak kuat gapapa.”
“Aku ikut.”
Kevin terlihat sedikit lega.
“Berangkat jam lima pagi.”
Tentu saja.
Mereka berangkat ketika Jakarta bahkan belum benar-benar bangun.
Langit masih gelap saat Nara turun ke lobby apartemen dengan tas kecil dan mata yang belum sepenuhnya sadar. Mobil sewaan hitam sudah menunggu di depan.
Mira duduk di kursi belakang sambil memegang kopi ukuran besar dan wajah orang yang tidur tiga jam.
“Kalau nanti gue meninggal di tol Cipularang,” katanya begitu Nara masuk, “tolong hapus tweet-tweet gue tahun 2018.”
“Prioritas hidup lo aneh.”
“Justru realistis.”
Kevin duduk di depan sambil membaca email dari ponselnya. Di sebelahnya, Dito — videografer freelance yang baru pertama kali mereka ajak kerja — masih setengah tertidur dengan headphone besar di leher.
Mobil mulai bergerak meninggalkan Jakarta yang masih penuh lampu oranye jalan raya.
Untuk satu jam pertama, hampir tidak ada yang bicara.
Hanya suara GPS, musik radio pelan, dan notifikasi sesekali dari ponsel Kevin.
Di luar jendela, gedung-gedung berubah jadi deretan ruko, lalu gudang, lalu jalan panjang dengan truk besar yang melaju lambat seperti hewan malam.
Mira tidur sambil menyender ke kaca.
Kevin akhirnya mematikan layar ponselnya dan menghela napas panjang.
“Capek?” tanya Nara.
Kevin tertawa kecil tanpa humor. “Gue lupa terakhir kali nggak capek kapan.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti bercanda.
Nara melihat wajah Kevin dari pantulan kaca depan.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat lebih tua dari biasanya.
Bukan karena umur.
Karena lelah.
“Kalian pernah nggak sih,” kata Kevin tiba-tiba, suaranya tetap menghadap jalan, “ngerasa hidup tuh kebanyakan maintenance?”
Mira membuka satu mata. “Hah?”
“Kayak…” Kevin mencari kata sambil memutar botol kopi di tangannya. “Kerja biar bisa bayar hidup. Terus hidup dipakai supaya bisa kerja lagi.”
“Wah,” gumam Mira. “Pagi-pagi langsung eksistensial.”
“Maaf.”
“Gapapa. Gue juga kepikiran tiap hari.”
Dito yang sedari tadi diam tiba-tiba ikut bicara dari kursi paling belakang.