Nara bangun sebelum alarm berbunyi.
Pukul 06.04.
Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring sambil menatap plafon apartemennya yang masih menyisakan bekas bocor berbentuk pulau kecil. Biasanya, pada jam seperti itu, ia akan meraih ponsel lebih dulu. Mengecek pesan. Email. Kalender. Hal-hal yang membuat hari terasa sudah dimiliki orang lain bahkan sebelum ia benar-benar bangun.
Pagi itu, ia tidak melakukannya.
Ia duduk pelan di tepi ranjang.
Ruangan masih setengah gelap. Cahaya tipis masuk dari celah tirai. Di lantai, kardus laundry salah sortir masih menunggu untuk dikembalikan. Di meja, obat lambung tersusun dekat gelas kosong. Di kursi, pakaian bersih yang semalam sudah dilipat tampak asing karena terlalu rapi.
Nara berdiri.
Bukan karena ada yang mendesak.
Bukan karena meeting.
Bukan karena pesan masuk.
Ia hanya berdiri.
Di dapur kecil, ia membuka lemari dan menemukan beras tinggal sedikit di dalam wadah plastik. Ada telur dua butir. Ada garam. Ada bawang putih yang sebagian sudah kering.
Ia menanak nasi.
Gerakannya canggung, seperti seseorang yang sudah lama lupa bahwa dapur bisa dipakai untuk hal selain meletakkan kantong makanan pesan antar.
Ketika air mulai mendidih di panci kecil, ponselnya bergetar di meja.
Dari Kevin:
Morning. Lo masuk agak siang aja kalau masih capek.
Nara membaca pesan itu.
Lalu membalas:
Aku masuk setelah makan.
Ia menatap kalimat itu sebentar.
Sederhana.
Tapi terdengar seperti keputusan.
Dari Kevin:
Oke. Take care.
Nara meletakkan ponsel lagi.
Ia menggoreng telur.
Minyaknya terlalu banyak. Bagian pinggir telur cepat gosong sedikit. Asap tipis naik dan membuatnya batuk. Ia membuka jendela kecil dekat dapur.
Dari luar, suara kota pagi masuk pelan:
motor pertama,
gerobak roti,
anak kecil menangis,
seseorang menyapu halaman parkir,
dan lift yang membuka-tutup di ujung lorong.
Nara makan di meja kecil tanpa menyalakan laptop.
Nasi.
Telur.
Garam.
Tidak istimewa.
Tapi untuk pertama kalinya setelah lama, ia tahu persis apa yang sedang masuk ke tubuhnya.
Selesai makan, ia membawa kardus laundry salah sortir keluar.
Di lorong, lampu sudah terang. Pintu unit 1307 terbuka sedikit. Salma sedang berjongkok di depan pintu, mengikat tali sepatu sambil menggigit ujung kantong plastik obat.
Nara berhenti.
Salma menoleh. Matanya masih merah oleh kurang tidur.
“Pagi,” kata Salma.
“Pagi.”
Salma melihat kardus di tangan Nara. “Pindahan?”
“Barang salah kirim dari laundry.”
“Oh.” Salma berdiri. “Aku pikir akhirnya ada penghuni yang menyerah sama hidup apartemen.”