Mira membatalkan janji dua puluh menit sebelum Nara sampai.
Dari Mira:
Ra, maaf banget. Aku nggak bisa malam ini.
Nara berdiri di dalam bus yang penuh, satu tangan memegang pegangan besi, tangan lain membuka pesan itu dengan ibu jari.
Ia membaca sekali.
Lalu dua kali.
Dari Mira:
Ada kerjaan dadakan. Client minta naik besok pagi.
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
Dari Mira:
Jangan marah ya.
Nara menatap kalimat terakhir itu lebih lama.
Ia tidak marah.
Mungkin itu yang membuatnya sedikit sedih.
Ia mengetik:
Gapapa.
Lalu mengirimnya sebelum sempat membuat kalimat itu terdengar lebih hidup.
Bus berhenti mendadak. Seorang laki-laki di belakangnya hampir menabrak punggung Nara, lalu meminta maaf tanpa suara. Di luar jendela, langit sore sudah berubah abu-abu gelap. Jakarta seperti sedang menahan hujan di dalam mulutnya.
Dari Mira:
Minggu depan kita cari waktu ya.
Nara membalas:
Iya.
Ia memasukkan ponsel ke tas.
Seharusnya ia turun di halte berikutnya, lalu berjalan ke kedai mi kecil tempat mereka pernah makan beberapa kali setelah kerja. Tempat itu bukan tempat penting. Tidak punya sejarah besar. Tidak ada kejadian yang benar-benar perlu diingat.
Mungkin justru karena itu Nara menyukainya.
Tempat-tempat biasa sering lebih jujur daripada tempat yang terlalu berusaha menjadi kenangan.
Ia tetap turun.
Hujan mulai jatuh ketika ia sampai di depan kedai mi itu.
Tempatnya belum terlalu ramai. Lampu putih di dalam ruangan membuat lantai keramik terlihat lebih pucat. Di dekat pintu, kipas angin berputar pelan. Televisi menayangkan berita dengan teks berjalan yang terlalu cepat.
Nara duduk di meja dekat kaca.
Pelayan datang sambil membawa buku menu.
“Sendiri, Kak?”
Pertanyaan itu terdengar biasa saja.
Tapi malam itu, Nara membutuhkan setengah detik lebih lama untuk menjawab.
“Iya.”
Ia memesan mi ayam dan teh hangat.
Ponselnya ia letakkan terbalik di meja.
Beberapa menit kemudian, seorang perempuan duduk di meja sebelah bersama anak laki-lakinya. Anak itu memakai seragam les yang sudah kusut dan terus menguap sambil membuka kotak pensil.
“Makan dulu, habis itu belajar lagi,” kata ibunya.
Anak itu mengangguk tanpa tenaga.
Di meja lain, dua pekerja konstruksi makan sambil diam. Di pojok ruangan, seorang pria muda menatap laptop dengan wajah hampir menyerah.
Nara memperhatikan orang-orang itu tanpa benar-benar ingin tahu hidup mereka.
Mereka semua terlihat seperti sedang berada di jeda pendek antara kewajiban satu dan kewajiban berikutnya.
Mi ayam datang.
Nara makan pelan.
Rasanya biasa.
Terlalu asin sedikit.
Kuahnya hangat.
Dan entah kenapa, ia merasa tidak perlu membenci malam itu.
Ponselnya bergetar.
Dari Bima:
Lo sama Mira jadi ketemu?
Nara menatap pesan itu sebentar.
Mira batal.
Dari Bima:
Oh.
Lalu:
Lo udah di tempatnya?
Nara membalas:
Udah.
Typing bubble muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Dari Bima:
Gue bisa nyusul kalau lo mau.
Nara hampir menjawab nggak usah.
Bukan karena tidak ingin ditemani.
Tapi karena selama ini ia terlalu sering menyelamatkan orang lain dari kerepotan kecil yang sebenarnya bisa mereka pilih sendiri.
Ia mengetik:
Kalau belum makan, ke sini aja.