Mira datang paling akhir.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka berteman, tidak ada yang benar-benar terkejut.
Nara dan Bima sudah duduk hampir tiga puluh menit di kafe kecil dekat Taman Suropati ketika pintu kaca terbuka dan Mira masuk sambil membawa napas terburu-buru, tas besar, dan wajah orang yang hidupnya terlalu penuh beberapa bulan terakhir.
“Sorry banget,” katanya sambil menarik kursi. “Client gue ngeselin.”
“Semua client lo ngeselin,” kata Bima.
“Karena semua manusia pengen cepat kaya tanpa ngerti revisi ada batasnya.”
Nara memperhatikan Mira diam-diam.
Ia masih Mira yang sama:
cepat bicara,
mudah mengeluh,
tertawa keras.
Tapi sekarang semuanya terasa sedikit lebih jauh.
Sedikit lebih lelah.
Seperti lagu lama yang diputar dari ruangan sebelah.
Pelayan datang membawa menu tambahan.
Mira bahkan belum membukanya ketika ponselnya bergetar.
Ia melihat layar, lalu mendesah pelan.
“Nyokap?” tanya Bima.
“Calon menantu nasional.”
Bima tertawa kecil.
“Masih dikenalin?”
“Minggu ini dokter. Minggu lalu pengusaha. Minggu depannya mungkin ustaz atau anggota DPR.”
Nara hampir tersenyum.
Mira memasukkan ponselnya kembali ke tas.
“Aku capek banget pura-pura tertarik kenal orang baru.”
“Terus kenapa masih dijalanin?” tanya Bima.
Mira diam sebentar.
Di luar kaca, sore mulai turun pelan ke taman. Orang-orang jogging lewat dengan pakaian olahraga mahal dan wajah serius seperti kesehatan adalah kompetisi.
“Karena mungkin nyokap gue benar,” kata Mira akhirnya. “Mungkin manusia memang nggak bisa hidup sendirian terus.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena kalimat itu terdengar lebih jujur daripada yang ingin Mira tunjukkan.
Pelayan datang membawa kopi dan makanan kecil.
Mira langsung mengambil kentang goreng paling dekat tanpa bertanya milik siapa.
Gerakan yang sangat biasa sampai Nara sadar suatu hari nanti mungkin hal-hal kecil seperti itu yang paling ia rindukan.
“Jadi?” tanya Mira sambil mengunyah. “Lo beneran mau pindah?”
Bima mengangguk kecil.
“Kemungkinan besar.”
“Kapan?”
“Kalau lolos tahap akhir, dua bulan lagi.”
Mira berhenti makan beberapa detik.
“Anjir.”
Bima tertawa kecil. “Itu respons profesional banget.”
“Gue kira masih wacana.”
“Awalnya juga gue pikir gitu.”
Hening datang pelan setelah itu.
Bukan hening canggung.
Lebih seperti tiga orang yang diam-diam sedang menghitung sesuatu dalam kepala masing-masing.