Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #29

Ruangan yang Mulai Berubah

Sabtu malam, Nara memindahkan meja kerjanya sendirian.

Tidak ada alasan besar.

Tidak ada momen pencerahan mendadak.

Ia hanya tiba-tiba merasa posisi meja yang menghadap dinding membuat apartemennya terasa semakin sempit.

Maka pukul sembilan malam, setelah makan mi instan setengah bungkus dan membiarkan musik pelan menyala dari ponsel, ia mulai menggeser furnitur.

Suara kaki meja bergesekan dengan lantai terdengar kasar di ruangan kecil itu.

Nara berhenti beberapa kali untuk mengatur napas.

Tubuhnya masih gampang lelah akhir-akhir ini.

Tapi anehnya, rasa capek malam itu terasa berbeda dari pulang kerja.

Lebih nyata.

Lebih miliknya sendiri.

Ia memindahkan meja dekat jendela.

Tidak langsung bagus.

Kabel berantakan.

Debu menumpuk di belakang lemari.

Ada bekas noda kopi lama yang bahkan tidak ia ingat kapan munculnya.

Nara mengambil kain lap.

Mulai membersihkan.

Pelan.

Di bawah ranjang, ia menemukan:

dua kaus kaki berbeda pasangan,

struk minimarket,

pulpen mati,

dan charger lama yang kabelnya digigit entah oleh apa.

Manusia ternyata meninggalkan banyak versi kecil dirinya sendiri di sudut-sudut ruangan.

Ponselnya bergetar.

Dari Mira:

Lagi apa?

Nara memotret meja yang setengah pindah lalu mengirimnya.

Beberapa detik kemudian:

Dari Mira:

Anjir. Akhirnya lo berevolusi jadi manusia yang punya interior awareness.

Nara hampir tersenyum.

Bosen aja.

Dari Mira:

Biasanya orang kalau bosan beli motor atau nikah.

Nara mengetik:

Aku miskin.

Dari Mira:

Realistis.

Percakapan berhenti di situ.

Dan anehnya, itu tidak terasa kosong.

Dulu, Nara sering takut kalau obrolan berhenti berarti hubungan ikut menjauh.

Sekarang ia mulai sadar:

beberapa manusia tetap tinggal bahkan dalam diam yang pendek-pendek.

Ia melanjutkan membereskan ruangan.

Tumpukan buku ia pindah ke rak bawah. Kardus lama ia lipat. Beberapa pakaian yang tidak pernah dipakai ia masukkan ke kantong hitam besar.

Di dasar lemari, ia menemukan hoodie abu-abu milik Ezra yang belum pernah ia kembalikan ke siapa pun.

Nara memegang hoodie itu beberapa detik.

Masih ada sedikit bau deterjen lama bercampur lemari tertutup.

Ia duduk di lantai sambil memandang kain abu-abu di tangannya.

Beberapa bulan lalu, mungkin ia akan tenggelam terlalu lama dalam ingatan.

Malam itu tidak.

Ia hanya berpikir:

Lihat selengkapnya