Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #30

Foto yang Akhirnya Ada

Mereka hampir batal lagi.

Awalnya karena Mira lembur.

Lalu karena Bima harus video call dengan kantor Singapura.

Lalu karena hujan.

Lalu karena hidup memang selalu punya alasan untuk membuat manusia menunda sesuatu.

Tapi malam itu, entah bagaimana, mereka tetap bertemu.

Di sebuah warung makan sederhana dekat Blok M yang meja aluminiumnya sedikit miring dan kipas anginnya berisik.

Bima datang paling duluan.

Ia sudah memesan teh tawar dan duduk sambil melihat laptop terbuka di depannya. Ada beberapa dokumen berbahasa Inggris di layar.

Nara duduk di seberangnya.

“Udah fix?” tanyanya.

Bima menghela napas kecil.

“Kayaknya iya.”

“Kapan?”

“Bulan depan.”

Kalimat itu akhirnya terdengar nyata malam itu.

Bukan kemungkinan.

Bukan wacana.

Sesuatu yang benar-benar akan terjadi.

Pelayan datang membawa sate usus dan gorengan yang tidak mereka pesan.

“Bonus, Mas.”

Bima mengangguk kecil sambil tersenyum sopan.

Beberapa menit kemudian, Mira datang dengan rambut sedikit basah dan wajah yang terlihat lebih lelah daripada biasanya.

“Maaf,” katanya sambil duduk cepat. “Gue sumpah pengen bunuh PowerPoint.”

“Masih hidup berarti presentasinya sukses,” kata Bima.

“Belum tentu.”

Mira mengambil gorengan tanpa izin seperti biasa.

Dan anehnya, melihat gerakan kecil itu membuat dada Nara terasa hangat sebentar.

Karena ada kebiasaan-kebiasaan yang mungkin tidak akan ikut pindah ke negara lain atau kehidupan baru.

Mereka memesan makanan:

nasi goreng,

mi rebus,

ayam penyet,

dan es teh yang terlalu manis.

Di luar, jalanan masih ramai oleh motor dan suara klakson. Jakarta malam terlihat seperti kota yang tidak pernah benar-benar selesai bekerja.

“Jadi Singapura beneran ya,” kata Mira akhirnya sambil memainkan sedotan.

Bima mengangguk.

“Takut nggak?”

“Takut.”

“Bagus.”

Bima mengernyit kecil. “Bagus?”

“Orang yang nggak takut biasanya paling ngawur.”

Nara tersenyum kecil mendengar itu.

Mereka makan sambil ngobrol tentang hal-hal kecil:

apartemen bocor,

bos aneh,

harga kopi,

orang LinkedIn yang terlalu bahagia,

dan teman lama yang tiba-tiba jualan skincare.

Percakapannya ringan.

Kadang lucu.

Kadang berhenti sebentar.

Tapi di bawah semua itu, ada sesuatu yang terus bergerak pelan:

kesadaran bahwa hidup mereka tidak lagi berada di jalur yang sama.

Dan mungkin memang tidak seharusnya begitu selamanya.

“Eh,” kata Mira tiba-tiba. “Foto yuk.”

Bima langsung mengeluh pelan. “Kenapa manusia modern harus mendokumentasikan semuanya?”

Lihat selengkapnya