Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #32

EPILOG: Manusia-Manusia yang Tetap Hidup

Tiga bulan kemudian, Bima benar-benar pindah ke Singapura.

Tidak ada adegan perpisahan besar di bandara.

Tidak ada pelukan dramatis.

Mereka hanya sempat makan malam cepat seminggu sebelum keberangkatannya karena Mira harus lembur dan Nara besok pagi ada presentasi.

Hidup terlalu sibuk untuk memberi manusia momen sinematik.

Dan mungkin memang begitu kenyataannya.

Grup chat mereka masih ada.

manusia-manusia gagal tidur

Kadang sepi dua hari.

Kadang tiba-tiba ramai karena Mira mengirim meme absurd jam satu pagi.

Kadang Bima mengirim foto makan siang mahal dengan caption:

negara kapitalis ini bahkan ayam geprek mahal.

Kadang Nara hanya membaca tanpa langsung membalas.

Tapi grup itu tetap hidup.

Kecil.

Berantakan.

Tidak konsisten.

Seperti kebanyakan hubungan manusia dewasa.

Jakarta memasuki musim hujan ketika Nara mulai terbiasa pulang tanpa merasa harus buru-buru membuka laptop lagi.

Ia masih bekerja di tempat yang sama.

Meeting masih melelahkan.

Client masih suka meminta hal mustahil.

Kevin masih minum kopi terlalu banyak.

Beberapa hal memang tidak berubah.

Tapi sekarang, sesekali, Nara pulang sebelum terlalu malam.

Sesekali memasak.

Sesekali berjalan kaki sedikit lebih jauh sebelum naik kendaraan.

Hal-hal kecil yang dulu terasa tidak penting.

Di apartemennya, meja kerja masih menghadap jendela.

Tanaman kecil di sudut meja mulai hijau lagi setelah akhirnya dirawat dengan benar. Lampu dapur masih redup, tapi sekarang Nara sudah hafal cara hidup di bawah cahaya yang tidak sempurna.

Malam itu, hujan turun sejak sore.

Nara baru selesai mandi ketika ponselnya berbunyi.

Dari Mira:

eh.

hm?

gue tunangan.

Nara membaca pesan itu cukup lama.

Lalu tersenyum kecil sendiri.

Bukan karena terkejut.

Mungkin karena akhirnya hidup benar-benar mulai membawa mereka ke tempat yang dulu terasa sangat jauh.

Lihat selengkapnya