Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #1

Bab 1: Mahakarya di Atas Bulu

"RAGHA MAHENDRA ADIWILAGA!!! KUCING PAK RT KENAPA JADI BEGINI?!"

Lengkingan suara Mama memutus arus pikiranku yang baru saja sampai pada teori bagaimana jika gravitasi di ruang tamu kami tiba-tiba berkurang sepuluh persen. Suaranya cukup kencang membuat jende;a bergetar. Aku berani sumpah, aku melihat burung gereja di pohon mangga depan rumah terbang kocar-kacir habis melihat kiamat.

Aku berdiri di tengah ruangan, masih memegang kaleng memprot merek Pylox warga Neon Green. Di depanku, subjek eksperimen nomor satu - kucing Persia milik pak RT - kini tampat seperti monster radioaktif yang baru saja melahirkan diri dari reaktor nuklir chernobyl.

"Ma, ini bukan sekedar warna hijau," kataku kalem. Aku mencova menatap mata Mama dengan biar yang biasanya kugunakan untuk menyakinkan beliau bahwa membongkar rice cooker adalah demi kemaslahatan umat. "Ini adalah sistem keamanan tingkat tinggi berbasis fauna. Mama ingat kan Pak RT sering mengeluh kucingnya hilang kalau malam? Nah, sekarang kalau dia berkeliaran di kegelapan, dia bakal glow in the dark. Efisien, kan?"

"Efisien kepalamu! Itu kucing orang, Ragha! bukan stiker fosfor!" Mama memijat pelipisnya. Aku bisa melihat urat kecil di sana berdenyut-denyut. "Kenapa kamu gak bisa duduk tenang lima menit saja? Lima menit, Ragha! Kemarin kamu bongkar mixer mama cuma karena pengen tahu kalau mesinnya dipasar di kipas angin bisa jadi helikopter atau nggak. Sekarang ini?!"

Aku tidak menjawab. Sebenarnya, perhatianku sudah teralihkan. Aku baru saja menyadari bahwa retakan di latai keramik raung tamu kamu berbentuk pola yang mirip sekali dengan peta kepulauan Karibia. Wah, kalau tuang sirup merah di sini, bakal kelihatan kayak aliran lava nggak ya? "Ragha! kamu dengerin Mama nggak?!"

"Denger, Ma. Fokus/ Hijau. Pak RT. Oke," jawabku cepat, meski matanya masih terpaku pada "lava" di lantai.

Tiba-tiba suara pintu di lantai atas terbuka. Kak Siswa muncul dengan seragam OSIS yang sangat rapi-tida ada satu pun kerutan, seolah-olang baju itu baru saja keluar dari pabrik dan disetrika oleh robot masa depan. Ia menatap kekacauan di bawah dengan tatapan dingin yang sudah menjadi makanan sehari-hariku.

"Ma, jangan teriak-teriak. Malu didengar tetangga," suara Kak Siska datar, tapi tajam. Ia menuruni tangga dengan anggun, memegang buku catatan tebal. "Ragha, jadwal kamu jam lima sore adalah ngerjain PR Matematika. Sekarang sudah jam lima lewat tujuh menit. Kamu telat tujuh menit."

Aku mendongak, menatap "si robot sempurna" itu. Ranking satu paralel, Ketua OSIS, kebanggaan keluarga, dan menurutku—manusia paling membosankan di planet Bumi.

Tapi saat dia mendekat, radarku menangkap sesuatu. Sebuah detail kecil yang luput dari mata Mama yang sedang emosi. Ada noda tinta hitam di ujung ibu jari Kak Siska. Itu bukan noda tinta pulpen biasa yang bocor, tapi noda gesekan yang hanya didapat kalau seseorang mencoba membuka paksa sesuatu yang terkunci—seperti laci meja guru di sekolah.

Dan yang lebih menarik lagi: tas ranselnya yang biasanya kempes, sore ini terlihat sedikit lebih kembung di bagian bawah. Ada bentuk kotak keras yang mencuat di sana.

Lihat selengkapnya