Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #2

Bab 2: Siska dan Jadwal Menit Demi Menit

Jika hidup ini adalah sebuah orkestra, maka Kak Siska adalah dirigen yang akan mematahkan tongkatnya kalau ada satu pemain biola yang napasnya tidak sinkron. Baginya, waktu ukan sekadar angka di jam dinding: waktu adalah penguasa absolut.

Di pintu kamarnya, ada sebuah papan tulis putih besar dilapisi Laminasi. Di sana, tertulis jadwal harian yang lebih mengerikan daripada instruksi manual reaktor nuklir.

05.00 - 05.15: Bangun, Shalat, Merapikan Tempat Tidur (Tanpa kerutan).

05.15 - 05.45: Belajar Mandiri/Review Materi.

05.45 - 06.15: Mandi dan Persiapan Sekolah.

... dan seterusnya, sampai pukul 22.00.

Aku berdiri di ambang pintunya sambil mengunyah sereal kering. Aku baru saja selesai menerima sesi "Khutbah Akbar" dari Papa selama tiga puluh menit tentang etika bertentangga dan larangan mengganggu hewan sebagai media seni rupa. Sekarang, aku sedang berada dalam fase pasca-badai: tubuhku terasa ringan, pikiranku mulai melompat-lompat mencari target baru, dan entah kenapa, aku merasa perlu melihat bagaimana manusia robot ini berfungsi di habitat aslinya.

"Kak, kalau jadwal Kakak jam 19.32 adalah 'Bernafas dengan Tenang', apa Kakak bakal tahan napas kalau jamnya belum menunjukkan angka itu?" tanyaku sambil bersandar di kusen pintunya.

Kak Siska tidak menoleh. Dia sedang duduk di meja belajarnya, pungunggunya tegak lurus seolah ada penggaris baja yang ditanam di sepanjang tulang belakangnya. Dia sedang menulis sesuatu dengan sangat cepat. Sret. Sret. Sret. "Ragha, kelua. Kakak sedang tidak punya slot waktu meladeni omong kosongmu," katanya dingin. Suaranya datar, tipe suara yang bisa membekukan air mendidih dalam sekejap.

Aku melangkah masuk. Satu hal yang harus kau ketahui tentang aku: kata "keluar" atau "jangan" bagiku terdengar seperti undangan pesta. Kakiku melangkah sendiri melintasi garis imajiner kamarnya yang sangat rapi. Kamar Kak Siska baunya seperti detergen dan buku baru. Kamarku baunya seperti solder, minyak jelantah, dan sedikit aroma kaos kaki lupa dicuci.

"Kakak tahu nggak?" kataku, mataku mulai memindai mejanya dengan kecepatan cahaya. Menurut penelitian yang aku baca di forum internet jam dua pagi tadi, orang yang terlalu teratur itu sebenarnya sedang mencoba menyembunyikan kekacauan besar di dalam kepalanya. Kayak bendungan yang mau jebol, makanya ditembel pakai plaster di mana-mana."

Tangan Kak Siska berhenti menulis. Sedikit saja. Hanya sepersekian detik. Tapi aku melihatnya.

"Plester nggak bisa nahan bendungan, Ragha," jawabnya tanpa menoleh.

"Makanya! Itu poinnya! Kakak pakai jadwal ini buat nutupin sesuatu, kan?" aku mendekat ke arah tas ranselnya yang ditaruh di atas kursi kecil di sudut ruangan. "Tadi aku denger suara krak. Kakak bawa apa sih? Mesin waktu? Atau... barang milik orang lain yang nggak sengaja 'nempel' di tangan Kakak?"

Siska tiba-tiba berbalik. Kursinya berderit tajam, sebuah suara yang pasti sangat mengganggu pendengarannya yang perfeksionis. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala.

"Keluar. Sekarang. Atau aku bilang Mama kalau kamu yang ngerusak antena TV minggu lalu sampai Papa nggak bisa nonton bola!"

"Eh, antena itu kan percobaan transmisi radio!" belaku, meski aku tahu aku kalah telak. Siska selalu punya kartu as. Dia mencatat semua dosaku di buku catatan tebalnya, mungkin di bab khusus berjudul 'Alasan untuk Menjual Ragha ke Pasar Loak'.

Lihat selengkapnya