Sekolah itu ibarat rimba, dan di rimba ini, aku adalah monyet yang terlalu banyak makan gula sementara Kak Siska adalah harimau yang pura-pura jadi vegetarian.
Pagi ini, bau kabel terbakar dari mesin cuci semalam seolah masih nempel di lubang hidungku. Gara-gara insiden itu, rencana Kak Siska buat berangkat jam 06.15 pagi hancur total. Dia terpaksa pakai seragam cadangan yang agak kedodoran karena seragam utamanya masih bau sangit, dan dia berangkat bareng Papa jam 07.00 pas.
Tapi, masalahnya, orang yang gagal menjalankan "misi pertama" biasanya bakal melakukan "misi balasan" yang lebih nekat. Dan benar saja, radar di kepalaku menangkap sinyal bahaya pas jam istirahat pertama.
Aku lagi duduk di kantin, berusaha fokus makan bakso sambil menghitung berapa banyak butir sereal yang bisa masuk ke lubang sedotan, ketika aku melihat Kak Siska berjalan melewati koridor SMA dengan langkah yang... aneh.
Langkahnya cepat, tapi pundaknya kaku. Dia nggak melihat ke depan, tapi matanya melirik-lirik ke arah tas sekolah yang digeletakkan sembarangan di pinggir lapangan basket oleh anak-anak kelas 12 yang lagi tanding.
"Ragha! Baksonya jangan diaduk pakai penggaris!" tegur Bu Kantin.
"Eh, iya Bu! Ini lagi simulasi kedalaman kuah," jawabku asal. Aku langsung berdiri, meninggalkan bakso yang baru kumakan separuh. Aku harus mengikuti harimau itu.
Aku menyelinap di antara kerumunan kakak kelas yang badannya gede-gede kayak kulkas dua pintu. Menjadi anak kecil yang dianggap "aneh" itu ada untungnya: orang-orang biasanya nggak peduli kalau aku sliweran, mereka cuma bakal bilang, "Oh, si Ragha pengacau lewat."
Aku melihat Kak Siska berhenti di dekat tumpukan tas. Dia pura-pura membetulkan tali sepatunya. Tapi tangannya—tangan yang semalam gemetar di depan kulkas itu—bergerak sangat cepat. Dalam satu gerakan halus, dia memasukkan sesuatu dari kantong tas salah satu temannya ke dalam saku roknya yang dalam.
Itu bukan gantungan kunci. Itu benda kecil yang berkilau kena sinar matahari. Jam tangan. Jam tangan merk Fossil warna rose gold yang aku tahu itu punya Sarah, sahabat karibnya sendiri.
Deg. Jantungku rasanya mau melompat keluar.
Kenapa, Kak? Kenapa harus jam tangan Sarah?
"WOI, RAGHA! NGAPAIN LO NGINTIP-NGINTIP?!"
Suara cempreng itu bikin aku loncat. Itu si Fajar, temen sekelasku yang hobinya lapor ke guru kalau aku naruh cicak di kotak pensilnya.
"Nggak! Gue lagi... lagi nyari frekuensi sinyal alien lewat tanah!" teriakku sambil lari menjauh sebelum Kak Siska sadar aku lagi memata-matai dia.
Aku lari ke arah gudang alat olahraga yang sepi. Napasku putus-putus. Di kepalaku, rasanya ada seribu lebah yang lagi demo. Kak Siska sudah nggak cuma nyolong barang sekolah yang nggak bernyawa, dia mulai nyolong barang orang yang dia sayang. Itu artinya "penyakit"-nya sudah makin parah. Dia butuh adrenalin lebih gede buat nutupin rasa kosong di kepalanya.
Aku harus bertindak. Kalau Sarah sadar jam tangannya hilang, dia pasti lapor ke guru. Dan kalau Kak Siska yang dikenal "sempurna" ketahuan mencuri, itu bakal jadi kiamat buat dia. Dia bakal langsung ambil langkah terakhir: kabur dari rumah pakai peta bus di balik kulkas itu.
"Oke, Ragha. Berpikir cepat. Berpikir seperti sirkuit korslet," bisikku pada diri sendiri.
Aku keluar dari gudang dan langsung lari menuju gedung SMA. Aku harus mengambil jam tangan itu dari saku Kak Siska sebelum jam istirahat selesai. Tapi gimana caranya? Dia nggak bakal mau didekati aku.
Lalu, sebuah ide gila muncul. Ide yang bakal bikin aku masuk ruang BK untuk kesekian kalinya, tapi masa bodohlah.