Masalah utama punya otak yang bekerja seperti mesin pencari rusak adalah aku tidak bisa memilih apa yang ingin kuingat. Orang normal mungkin lupa di mana mereka menaruh kunci motor, tapi aku bisa ingat dengan jelas jumlah kancing di baju Pak RT saat dia memarahiku, atau arah serat kayu di meja makan yang polanya mirip wajah monyet.
Dan yang paling menyiksa: mataku selalu berpindah ke tempat yang tidak seharusnya.
Sore itu, rumah terasa sangat gerah. Bukan karena cuaca Jakarta yang memang menyebalkan, tapi karena AC di ruang tengah mati total. Papa mencurigai aku telah menyabotase kompresornya (padahal kali ini bukan aku, sungguh!), dan Mama masih melakukan aksi mogok bicara sejak insiden mesin cuci kemarin.
Aku sedang berjalan melewati kamar Kak Siska menuju kamar mandi ketika aku melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Sebuah anomali. Biasanya, kamar itu tertutup rapat seolah-olah di dalamnya ada rahasia negara yang dilindungi laser keamanan.
Aku berhenti. Kak Siska sedang di bawah, dipaksa Mama membantunya mengucek baju secara manual sebagai hukuman karena aku merusak mesin cuci. Aku bisa mendengar suara sikat yang beradu dengan papan gilesan dari arah belakang rumah. Srek. Srek. Srek. Suara yang penuh kemarahan.
Lantai kayu di depan kamarnya berderit saat aku melangkah masuk. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini melanggar privasi. Tapi rasa penasaran di kepalaku berteriak lebih kencang daripada suara hati nuraniku.
Kamarnya sangat rapi. Terlalu rapi. Wangi melati dan detergen yang tajam membuat hidungku gatal. Mataku langsung berpindah-pindah, memindai setiap sudut dengan kecepatan cahaya. Buku pelajaran yang ditumpuk sesuai tinggi badan, alat tulis yang dikelompokkan berdasarkan warna, dan papan jadwal itu... jadwal yang sekarang penuh dengan coretan tinta merah karena banyak agenda yang berantakan gara-gara aku.
Lalu, mataku tertuju pada laci meja belajarnya yang tidak tertutup rapat. Hanya tersisa celah satu sentimeter.
Di sanalah benda itu berada.
Aku menarik laci itu pelan. Jantungku berdegup kencang, rasanya seperti sedang menjinakkan bom. Di antara tumpukan kertas ulangan bernilai seratus, ada sebuah benda yang berkilau.
Jam tangan Fossil rose gold milik Kak Sarah.
Duniaku rasanya berhenti berputar sebentar. Tunggu. Apa?
"Nggak mungkin," bisikku. "Kan tadi sudah aku balikin?"
Aku ingat betul. Di koridor sekolah tadi, aku menabrak Kak Siska, aku merogoh sakunya, aku merasakan logam dingin, dan aku memasukkannya ke tas Kak Sarah di kelas SMA yang kosong. Aku yakin seratus persen! Aku ini anak yang bisa ingat detail kabel di dalam radio, mana mungkin aku salah memasukkan barang?
Aku mengambil jam tangan itu. Dingin. Berat. Ada goresan kecil di bagian belakangnya, persis seperti yang Kak Sarah tunjukkan minggu lalu. Ini benar-benar jam tangan Kak Sarah.
Berarti... yang aku ambil dari saku Kak Siska di sekolah tadi pagi bukan jam tangan ini.
Lalu apa yang aku ambil tadi pagi? Aku merogoh saku celanaku yang masih penuh dengan baut dan mur. Aku mengeluarkan sebuah benda logam berbentuk bulat, sedikit pipih, dan ada rantainya. Aku menelitinya di bawah lampu meja Kak Siska.
Itu adalah kompas tua. Kompas kuno dengan ukiran huruf Arab di pinggirannya.