Meja makan rumah kami adalah sebuah panggung teater paling tidak adil di dunia. Di kepala tempat duduk, Papa bertindak sebagai hakim garis yang kelelahan. Di sebelahnya, Mama adalah sutradara yang selalu memegang kendali. Lalu ada Kak Siska, sang aktris utama yang selalu mendapat tepuk tangan, dan terakhir aku—aktor figuran yang tugasnya cuma jadi badut penghibur atau samsak tinju emosi.
Sore ini, bau ayam goreng mentega masakan Mama gagal menutupi atmosfer tegang yang menyelimuti ruangan. Lampu dapur masih agak kedip-kedip pasca-insiden mesin cuci kemarin, dan kulkas di sudut ruangan masih mengeluarkan bunyi bip... lirih setiap tiga puluh detik karena koin yang kuselipkan di karet pintunya belum ketahuan.
Bip.
"Ragha, kakimu bisa berhenti goyang-goyang nggak? Papa pusing melihatnya," tegur Papa tanpa mendongak dari piringnya.
Aku langsung menghentikan gerakan kaki kananku yang refleks menepuk-nepuk lantai mengikuti ritme lagu rock yang berputar di kepalaku. "Eh, iya, Pa. Ini lagi ngetes kekuatan gravitasi lantai," jawabku sambil menusuk-nusuk tempe goreng pakai garpu.
"Makan yang benar, Ragha. Sudah umur tiga belas tahun tapi kelakuan masih seperti anak TK," sahut Mama, nadanya dingin, setajam pisau dapur. "Mama tadi siang terpaksa mencuci sprei dan seragam kalian pakai tangan sampai punggung Mama mau patah. Semua gara-gara eksperimen bodohmu itu."
Aku menelan ludah. Rasa bersalah yang sempat hilang di kamarku tadi kini kembali menyengat. Aku melirik ke saku celanaku. Di dalam sana, kompas kuno milik Kepala Sekolah yang kuambil dari Kak Siska masih tersimpan rapi, beradu dengan beberapa baut besi. Setiap kali aku bergerak, logamnya terasa dingin menyentuh kulitku.
Aku sengaja melirik ke arah Kak Siska yang duduk di depanku. Dia terlihat sangat rapi, sangat tenang, seolah konfrontasi penuh air mata di kamarnya sejam yang lalu tidak pernah terjadi. Dia mengunyah makanannya dengan anggun, pelan, persis seperti robot yang diprogram untuk memiliki tata krama sempurna.
"Kak Siska," suara Mama mendadak berubah drastis. Dari nada penuh duri saat bicara padaku, menjadi selembut sutra. "Tadi Mama baca di grup WhatsApp komite sekolah. Katanya program kerja OSIS kamu yang baru sukses besar ya? Sampai dipuji sama kepala sekolah?"
Kak Siska menghentikan kunyahannya sebentar. Wajahnya tetap datar. "Iya, Ma. Cuma program literasi digital."
"Hebat anak Mama," puji Mama, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan. "Mama sampai bangga banget pas ditanya-tanya sama ibu-ibu komplek. Kamu itu memang nggak pernah bikin Mama pusing. Selalu juara, selalu bisa diandalkan. Nggak kayak..." Mama tidak melanjutkan kalimatnya, tapi matanya langsung berpindah padaku.
Tatapan itu. Tatapan membandingkan yang rasanya lebih perih daripada disabet penggaris kayu.
"Andai adikmu punya otak separuh saja dari encernya otak kamu, Kak Siska. Rumah ini nggak bakal kayak kapal pecah setiap hari," tambah Papa sambil menghela napas berat.
Bip.
Aku meremas garpuku kuat-kuat. Di dalam kepalaku, pikiran-pikiranku mulai berkejaran dengan liar, melompat dari satu ide ke ide lain tanpa bisa direm. Aku ingin berdiri, membalikkan meja makan ini, lalu berteriak: “Anak emas kalian ini pencuri! Dia frustrasi! Dia minum obat penenang orang lain dan berniat kabur pakai bus antarprovinsi!”