Tepat pukul dua pagi, duniaku baru benar-benar hidup. Ketika seisi rumah tenggelam dalam mimpi dan kesunyian, isi kepalaku justru mendadak terang benderang seperti lampu pasar malam. Semua ide, potongan kabel, dan skenario yang berputar-putar sejak makan malam tadi mendadak berbaris rapi, menuntut untuk segera dieksekusi.
Aku duduk bersila di lantai kamar yang dingin, menatap layar ponsel pintarku yang retak di pojok kanan bawah. Aku tidak sedang bermain game atau menonton video. Aku sedang mengamati layar pantauan dari sebuah aplikasi pelacak lalu lintas Wi-Fi sederhana yang berhasil kuunduh gratisan beberapa hari lalu. Di rumah ini, hanya ada satu pemancar internet, dan malam ini, ada satu perangkat yang sedang menyedot data paling banyak di jam yang tidak wajar.
Perangkat: iPhone-Siska. Aktivitas: Mengakses situs web KAI (Kereta Api Indonesia).
Jantungku berdegup kencang. Tanganku yang biasanya refleks mengetuk-ngetuk meja kini memegang pinggiran kasur dengan sangat erat.
"Dia mengganti rencananya," bisikku pada Snowy yang mendengkur di dekat tumpukan buku komikku. Bulu hijaunya mulai memudar karena luntur, menyisakan warna putih kusam di beberapa bagian yang membuatnya kelihatan seperti mainan rusak.
Aku buru-buru meraih buku catatan lecek bersampul robot yang kusembunyikan di dalam sarung bantal. Aku tidak berniat menulis laporan rapi malam ini. Otakku terlalu berisik untuk itu. Menggunakan pulpen hitam yang tintanya hampir habis, aku langsung membuka halaman tengah dan mencoret gambar rute bus antarprovinsi yang kutemukan di dapur dua hari lalu dengan satu garisan tebal.
Kak Siska sadar aku sudah mengendus rencana busnya. Dia tahu aku mengawasinya sejak insiden menabraknya di sekolah tadi siang. Makanya, dia beralih ke kereta. Kereta lebih cepat, jadwalnya tepat waktu, dan yang paling penting: tidak akan terpengaruh kemacetan jika Papa atau aku mencoba mengejarnya. Jalur rel tidak bisa diadang dengan sepeda atau motor tua Papa. Di samping coretan bus itu, jemariku bergerak liar menggambar sepasang garis paralel yang panjang—rel kereta api—latus menimpanya dengan sebuah tanda silang merah yang besar.
Aku meletakkan telingaku di pintu kamar, mendendangkan lamat-lamat. Rumah ini sangat sepi, menyisakan bunyi bip... lirih dari kulkas di bawah yang frekuensinya sekarang terdengar seperti detak jantung monster besi yang sedang sekarat di sudut dapur.
Tap. Tap.
Suara langkah kaki itu sangat halus, nyaris tak terdengar jika kau tidak melatih telingamu untuk mengenali suara gesekan kaus kaki di atas lantai keramik. Itu langkah Kak Siska. Dia sedang turun ke lantai bawah.
Aku melempar buku catatanku ke atas kasur dan membuka pintu kamarku tanpa menimbulkan suara sedikit pun—sebuah keahlian yang kupelajari setelah bertahun-tahun menyelinap ke dapur untuk mengambil camilan atau membongkar radio rusak di tengah malam tanpa membangunkan Mama. Aku berjalan berjinjit, memanfaatkan bayangan lemari pakaian di koridor, lalu mengintip dari balik sela-sela pegangan tangga kayu yang berdebu.
Suasana lantai bawah gelap gulita. Namun, di dekat meja telepon rumah yang terletak di samping dapur, ada pendaran cahaya biru yang bersumber dari layar ponsel. Cahaya fajar palsu itu menerangi wajah Kak Siska dari bawah, membuat fiturnya kelihatan tajam dan asing.
Dia kelihatan sangat berbeda dari Kak Siska yang tadi sore duduk anggun di meja makan sambil menerima pujian Mama dengan senyum formalnya. Rambutnya yang biasa diikat rapi hingga tak ada satu helai pun yang lolos, kini tergerai berantakan menutupi sebagian pipinya. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas di bawah temaram cahaya ponsel. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, seolah dia sedang menghafal sebuah mantra atau baris angka khayalan.
Di tangan kanannya, dia memegang sebuah kartu tipis berwarna perak. Kartu debit milik Papa.