Matahari belum bener-bener bangun pas aku sudah berdiri di depan meja dapur. Jam dinding bentuk ayam jago milik Mama baru menunjukkan pukul lima lewat lima belas pagi. Di luar, langit masih sewarna jelaga, dan udara pagi Jakarta terasa dingin yang lengket.
Rumah masih sepi, tapi isi kepalaku sudah kayak stasiun kereta pas jam pulang kerja—berisik, padat, dan buru-buru. Aku punya waktu kurang dari tiga puluh menit sebelum Mama keluar dari kamarnya buat masak nasi dan Papa mulai batuk-batuk di kamar mandi.
Bip.
Monster besi di sudut dapur itu menyapaku dengan bunyi setianya. Aku menatap kulkas itu sebentar, lalu beralih ke misiku yang sebenarnya. Di atas kursi makan, tas sekolah Kak Siska sudah nangkring dengan rapi. Tas ransel warna hitam polos merek terkenal yang selalu bersih tanpa noda, berbanding terbalik sama tas sekolahku yang ritsletingnya dipasang peniti dan penuh coretan spidol permanen.
Aku melangkah mendekat, nyaris tanpa suara. Di tanganku sudah ada senjata utama untuk subuh ini: sebotol saus sambal ekstra pedas yang sisa setengah dari dalam kulkas.
Rencanaku sudah matang, seenggaknya menurut kalkulasi otakku yang jalannya suka melompat-lompat. Aku tidak boleh langsung mencuri kartu pelajar Kak Siska begitu saja dari dompetnya. Kalau aku ambil langsung, Kak Siska yang super teliti itu pasti bakal sadar pas dia ngecek barang-barangnya sebelum berangkat sekolah. Dia bakal panik, curiga sama aku, dan rencananya bisa berubah jadi lebih nekat.
Jadi, aku harus pakai taktik pengalihan isu. Taktik "Kecelakaan Domestik".
Aku membuka ritsleting utama tas Kak Siska pelan-pelan. Suara sreet kecilnya bikin bulu kudukku berdiri. Aku mengintip ke dalam. Isinya bener-bener mencerminkan kepribadiannya yang kaku. Buku pelajaran disisipkan sesuai ukuran, ada kotak pensil transparan yang isinya pulpen yang disusun searah, dan di bagian tengah, ada sebuah dompet kain kecil tempat dia menyimpan uang jajan dan kartu pelajar.
Aku membalikkan botol saus sambal itu, lalu dengan sengaja menumpahkan cairan merah kental itu tepat di bagian dalam kantong tas, agak jauh dari buku-bukunya tapi bener-bener mengenai sudut tempat dompet kain itu berada. Bau cabai yang tajam dan asam langsung menguar di udara pagi.
"Maaf ya, Kak," bisikku dalam hati.
Aku memasukkan kembali dompet kain itu, memastikan bagian bawahnya terkena lumatan saus sambal yang lengket. Skenarionya adalah: pas Kak Siska buka tasnya di sekolah, dia bakal mengira botol saus atau tempat makan yang bocor—walaupun dia nggak bawa bekal hari ini, dia pasti bakal mikir itu ulahku yang iseng masukin saus ke tasnya. Dia bakal marah besar, fokusnya bakal tersedot buat ngebersihin dompet dan tasnya, dan di saat kekacauan itulah, aku bakal punya kesempatan buat "mengamankan" kartu pelajarnya yang sudah telanjur kotor. Yang paling penting, perhatiannya bakal beralih dari fakta kalau aku lagi nyoba nahan dia biar nggak kabur.
Baru saja aku mau menutup kembali ritsleting tasnya, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga.
Papa.
Jantungku rasanya mau melompat keluar dari tenggorokan. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, aku menyembunyikan botol saus sambal ke balik kaus oblongku, lalu buru-buru berbalik dan nangkring di depan kulkas, berpura-pura lagi sibuk meraba-raba bagian bawahnya.
Lampu dapur dinyalakan. Klik. Cahaya terang benderang langsung bikin mataku perih.
"Ragha? Ngapain kamu subuh-subuh sudah di dapur?" suara serak Papa memecah kesunyian. Papa berdiri di ambang pintu dapur sambil membetulkan sarungnya, matanya yang masih mengantuk menatapku penuh curiga.
"Eh, Pa... Pagi, Pa," kataku, mencoba tersenyum senormal mungkin padahal botol saus di balik bajuku rasanya dingin banget nempel di perut. "Ini... anu, kulkasnya bunyinya makin aneh. Aku lagi ngecek kompresornya, siapa tahu ada tikus kejepit di belakang."