Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #9

Bab 9: SISKA MENGAMUK KARENA JADWALNYA BERANTAKAN

Bagi Kak Siska, hidup adalah sebuah Excel Spreadsheet yang agung. Dari jam lima subuh sampai jam sepuluh malam, semua aktivitasnya sudah dikunci didalam kotak-kotak tabel yang tidak boleh di ganggu gugat. Mandi tujuh menit, sarapan sepuluh menit, baca rangkuman materi biologi lima belas menit. Jika ada satu kotak yang geser satu milimeter saja, dunianya bakal kiamat.

Dan akulah asteroid yang bertugas menghancurkan spreadsheet itu setiap hari.

Pukul delapan pagi di area SMA Utama Bangsa, suasana harusnya tenang karena semua anak sudah masuk kelas. Tapi di depan mading besar dekat ruang OSIS, sebuah badai lokal sedang terjadi. Aku yang harusnya berada di gedung SMP seberang lapangan untuk belajar Aljabar, malah nangkring di balik pohon beringin besar sambil pura-pura ngobrol sama seekor semut di batang pohon.

Mataku memindai Kak Siska yang sedang dikelilingi tiga anggota OSIS lainnya. Wajah Kak Siska yang biasanya sedingin es krim lemari es, sekarang sudah sewarna kepiting rebuh yang siap dihidangkan.

"Kenapa susunan acaranya bisa berubah?!" Saura Kak Siska meninggi, melengking dua oktav lebih tinggi dari biasanya. Beberapa anak SMA yang lewat sampai harus jalan nunduk-nunduk saking takutnya.

"I-itu, Sis.. kata Pak Bambang, aula mau dipakai buat penyuluhan demam berdarah dulu jam sembilan," jawab skretaris OSIS, cowo jangkung kacamata bernama Andi yang sekatang bedannya gemetaran kayak mensin cuci rumahku kemarin. "Jadi rapat pleno kita digeser ke jam sebelas."

"Nggak bisa!" Kak Siska menggebrak meja madin dengan berkas di tangannya. Plak! "jam sebelas itu jadwal aku asistensi leb kimia! kalau digeser, jadwal kunjungan perpustakaan jam satu siang bakal bentrok! Terus kapan aku review materi buat olimpiade?!"

Dia menjambak rambutnya sendiri yang sudah agak acak-acakan karena tas lamanya yang bau debu gudang tadi pagi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA Utama Bangsa, Siska si ketua OSIS sempurna kelihatan... korslet total.

Aku menahan tawa di balik pohon. Sebenarnya, mundurnya jadwal aula bukan salah Pak Bambang. Tapi pagi-pagi sekali, sebelum bel masuk, aku menyelinap ke ruang tata usaha dan menempelkan memo palsu berlogo dinas kesehatan di meja beliau. Isinya: Himbauan Darurat Fogging Nyamuk Jam 09.00. Aku bahkan menggambar logo nyamuknya sendiri pakai spidol hitam. Berhasil.

Tapi penderitaan Kak Siska belum selesai.

Dia merogoh tas ransel lamanya dengan gusar untuk mengambil ponsel. Dia mau mengecek jadwal cadangan di aplikasinya. Tapi begitu tangannya masuk ke dalam tas, wajahnya mendadak berubah drastis. Dari merah padam menjadi pucat, lalu melotot.

Dia menarik tangannya keluar. Jari-jarinya penuh dengan lumatan merah yang kental dan mengkilap.

"Ini... apa lagi?!" jerit Kak Siska.

"Astaga, Siska! Tanganmu berdarah?!" Andi langsung panik, mukanya pucat. "Kamu luka? Di mana yang robek?!"

"Bukan darah, bodoh!" Kak Siska mengendus jarinya, lalu matanya berapi-api. "Ini saus sambal! Saus sambal sisa tadi pagi masih ada yang bocor di dalam tas ini!"

Lihat selengkapnya