Bel pulang sekolah berbunyi seperti suara trompet perang yang menandakan gencatan senjata sementara telah usai. Saat anak-anak lain berlarian keluar gerbang dengan wajah ceria membayangkan kasur atau game online, aku justru berjalan pulang dengan langkah seberat robot tua yang kekurangan oli.
Di dalam saku kaus kakiku, kartu pelajar Kak Siska terasa panas bergandengan dengan kompas kuno milik Kepala Sekolah. Iya, aku gagal mengembalikan kompas itu hari ini. Ruang guru dikunci rapat karena seluruh staf mendadak mengadakan rapat darurat untuk membahas "teror fogging nyamuk palsu" yang sukses mengacaukan jadwal sekolah sejak pagi. Otakku yang berisik ini memang kadang terlalu kreatif untuk kebaikanku sendiri.
Begitu sampai di rumah, suasana sunyi langsung menyambutku. Mama sedang pergi ke pengajian komplek, dan Papa belum pulang kerja. Hanya ada Snowy yang menyambutku di depan pintu, mengeong malas memamerkan sisa-sisa bulu hijaunya yang kini malah kelihatan seperti lumut kering.
Aku melangkah ke dapur, berniat mengambil segelas air es untuk mendinginkan kepalaku yang rasanya hampir berasap. Namun, begitu kakiku menginjak lantai keramik dapur, mataku langsung berpindah pada objek utama di sudut ruangan.
Kulkas dua pintu warna perak milik keluarga kami.
Bip.
Monster besi itu mengeluarkan suara ringkihnya. Aku berdiri di depannya, menatap pintu kulkas yang penuh dengan magnet berbentuk buah-buahan, angka-angka, dan memo kecil. Mataku terpaku pada selembar kertas putih kecil yang dijepit oleh magnet berbentuk jeruk kupas. Di sana tertulis jadwal diet karbohidrat milik Kak Siska dengan tulisan tangannya yang sangat rapi dan lurus.
Jadwal Diet Mingguan - Siska
Aku menyipitkan mata. Orang normal—seperti Mama dan Papa—pasti melihat ini sebagai daftar makanan biasa. Tapi di kepala aku, baris-baris teks ini mendadak pecah dan tersusun ulang menjadi kode yang sama sekali berbeda.