Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #11

Bab 11: Riko Mulai Curiga Pada Siska di Sekolah

Masalah terbesar dari sebuah konspirasi yang rapi bukanlah musuh yang pintar, melainkan sahabat terdekat yang terlalu peduli. Dan bagi Kak Siska, orang itu bernama Riko.

Riko adalah Wakil Ketua OSIS sekaligus cowok yang sudah menjadi bayangan Kak Siska sejak awal masuk SMA. Dia adalah tipe sahabat yang mencatat kapan Kak Siska harus minum air putih, tahu kapan Kak Siska mulai migrain hanya dari cara dia memegang pulpen, dan satu-satunya orang yang dipercaya Kak Siska untuk berbagi beban di ruang OSIS. Sialnya, Riko bukan tipe orang yang gampang ditakut-takuti dengan gertakan atau suara tinggi. Riko itu tenang, jeli, dan punya insting tajam yang sangat menyebalkan.

Siang itu, koridor lantai dua gedung SMA Utama Bangsa masih terasa gerah akibat dampak sisa-sisa kekacauan jadwal fogging palsu buatanku tadi pagi. Aku sengaja tidak langsung pulang ke area SMP. Dengan berbekal sapu ijuk yang kuambil dari gudang kelas bawah, aku berpura-pura menjadi petugas kebersihan sukarela yang sedang membersihkan lorong di depan ruang OSIS. Rambutku kuacak-acak dan kerah bajuku kukeluarin biar tidak terlalu mencolok sebagai anak SMP penyelundup.

Melalui celah jendela kaca ruang OSIS yang sedikit terbuka, aku bisa melihat Kak Siska dan Riko sedang duduk berhadapan di meja rapat yang panjang. Di atas meja, lembaran proposal program literasi digital berserakan, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang sedang membaca.

"Sis," suara Riko terdengar berat, menggema pelan melewati celah jendela. "Kamu nggak bisa bohongin aku. Ada yang nggak beres sama kamu hari ini."

Kak Siska tidak mendongak. Tangannya sibuk menggosok-gosok ujung tas ransel lamanya yang masih meninggalkan noda kemerahan samar akibat sisa saus sambal subuh tadi. "Aku cuma capek, Rik. Rapat pleno tadi mundur, terus urusan aula bikin semua jadwal mingguanku berantakan. Kamu tahu sendiri aku benci kalau ada waktu yang terbuang."

"Ini bukan cuma soal jadwal yang berantakan, Siska," potong Riko cepat. Dia memajukan posisi duduknya, menumpukan kedua tangannya di atas meja. Matanya menatap lekat-lekat ke arah lingkaran hitam di bawah mata Kak Siska yang coba disamarkan dengan bedak tipis. "Kamu salah memasukkan total anggaran di halaman tiga belas. Kamu. Siska Amelia. Orang yang bisa hafal nomor induk siswa satu angkatan, salah masukin angka nol di proposal dinas?"

Kak Siska menghentikan gerakan tangannya di tas. Bahunya tampak menegang. "Itu cuma salah ketik biasa. Manusiawi, kan?"

"Buat orang lain, iya. Buat kamu, nggak," serang Riko lagi, nadanya tidak membentak, tapi penuh selidik yang menuntut jawaban jujur sebagai seorang sahabat. "Lalu, apa yang terjadi sama tanganmu tadi pagi? Andi bilang tanganmu merah-merah bau cabai. Dan sekarang... kenapa kamu pakai tas ransel usang ini? Tas hitam kesayanganmu yang selalu wangi detergen mahal itu ke mana?"

Dari balik pohon beringin dekat jendela, aku menahan napas. Hebat juga si Riko ini, pikirku. Detail-detail kecil yang sengaja kuperbuat untuk mengacaukan konsentrasi Kak Siska ternyata malah memicu alarm kewaspadaan di kepala sahabatnya sendiri. Taktik bom asapku mulai mendatangkan efek samping yang tidak terduga.

"Tas aku rusak, Rik. Kemasukan... makanan. Makanya aku pakai tas lama ini," jawab Kak Siska, suaranya terdengar makin tipis dan defensif. Dia mencoba berdiri, hendak membereskan berkas-berkas di atas meja untuk mengakhiri pembicaraan. "Aku harus ke ruang guru sekarang. Mau menyerahkan berkas ini ke Pembina."

Lihat selengkapnya