Strategi bertahan hidup terbaik di rumah ini adalah mengetahui kapan harus menjadi monster, dan kapan harus menjadi korban. Sore ini, pukul empat belas lebih tiga puluh menit, aku memilih opsi kedua. Aku harus menjelma menjadi anak penyakitan yang berada di ambang kematian demi sebuah misi suci: menggagalkan rencana pelarian Kak Siska dari rumah sebelum jam keberangkatan keretanya pukul 18.45 nanti.
Rencana Kak Siska sore ini sebenarnya simpel tapi genius. Dia pamit ke Mama mau pergi ke sekolah lagi dengan alasan ada rapat evaluasi OSIS dadakan bersama Riko dan anak-anak pengurus lainnya pasca-insiden saus sambal tadi pagi. Itu adalah tameng legalnya untuk keluar rumah membawa tas ransel tanpa dicurigai Mama. Dia butuh alasan untuk menghilang dari radar sebelum malam tiba.
Maka dari itu, aku harus memotong jalurnya sejak dari ruang tamu.
"Aduuuh! Maaa! Perut Ragha kayak diaduk-aduk pakai mesin cuci yang kemarin rusak!" raungku dari atas sofa ruang tamu.
Aku berguling ke kanan dan ke kiri, melipat lututku sampai ke dada, memasang ekspresi wajah paling menderita yang bisa diproduksi oleh otot-otot mukaku. Untuk memperkuat efek dramatis, aku sudah membalurkan minyak kayu putih sebotol penuh ke leher dan perutku, ditambah sedikit bedak tabur di wajah agar kelihatan pucat pasi seperti mayat berjalan.
Mama yang baru saja melangkah masuk dari pintu depan setelah pulang dari pengajian komplek langsung melempar tas jinjingnya ke atas meja. "Ragha! Kamu ini kenapa lagi?! Jangan bikin Mama jantungan, ya!"
"Sakit banget, Ma... Tadi di sekolah kayaknya salah makan siomay kantin... rasanya usus Ragha mau putus!" erangku, sengaja menambahkan suara lenguhan kecil di akhir kalimat agar terdengar makin sekarat.
Di saat yang bersamaan, Kak Siska turun dari tangga dengan seragam SMA yang masih rapi. Di pundaknya, tas ransel usang dari gudang itu sudah bertengger manis. Begitu melihat aku yang sedang berguling-guling seperti cacing kepanasan di atas sofa, langkah kakinya langsung terhenti di anak tangga terakhir. Matanya menyipit penuh kecurigaan. Dia tahu persis aku sedang memasang perangkap baru.
"Ma, Siska harus berangkat ke sekolah lagi sekarang. Ada urusan OSIS yang belum selesai dengan Riko," kata Kak Siska, suaranya dingin, mencoba mengabaikan eksistensiku di sofa.