Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #13

Bab 13: Rahasia Di Balik Kasur

Suara jam dinding di ruang tamu berdentang lima kali. Pukul lima sore. Ketegangan di dalam rumah ini merayap pelan bersama bayang-bayang senja yang mulai menelan cahaya matahari di luar jendela. Mama sedang sibuk di dapur, ditemani bunyi bip kulkas yang ritmis, sementara Papa menelepon rekan kerjanya di teras depan sambil sesekali memijat pelipisnya.

Di lantai atas, suasana koridor terasa seperti lorong kastil tua yang mati. Pintu kamar Kak Siska tertutup rapat sejak insiden drama pura-pura sakitku tadi siang. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada suara buku yang dibuka, bahkan tidak ada helaan napas.

Namun, aku tahu persis bahwa keheningan ini palsu. Seorang Siska Zayla Adiwilaga tidak akan menyerah begitu saja hanya karena rapat OSIS-nya batal atau karena kartu pelajarnya aku sita di dalam kaos kaki SMP-ku. Nama "Adiwilaga" di belakang namanya bukan sekadar hiasan; itu adalah klan yang menuntut kesempurnaan, dan Siska dididik untuk selalu punya rencana cadangan dalam setiap kegagalan.

Kesempatan itu datang ketika Kak Siska akhirnya keluar kamar untuk mandi. Begitu mendengar suara gemercik air dari kamar mandi lantai atas, aku langsung melompat dari kasurku. Aku menyelinap keluar, menatap pintu kamar mandi yang tertutup, lalu dengan gerakan sehalus kucing, memutar kenop pintu kamar Kak Siska.

Cklek. Untungnya tidak dikunci. Aku menyelinap masuk dan menutup pintunya kembali tanpa menimbulkan suara.

Kamar Kak Siska adalah antitesis dari kamarku. Jika kamarku kelihatan seperti kapal pecah yang dihantam badai tornado—penuh kabel, ruji sepeda, dan komik berserakan—kamar Kak Siska adalah perwujudan dari kata "sempurna" yang mengerikan. Seprai tempat tidurnya berwarna putih bersih tanpa kerutan. Buku-buku tebal pelajaran SMA berbaris rapi di rak sesuai abjad dan warna sampul. Di sudut meja belajar, deretan piala dan medali emas berkilau tertimpa cahaya sore, memantulkan ambisi Mama yang sengaja dipajang di sana.

"Oke, Gha. Waktu kamu kurang dari sepuluh menit," bisikku pada diri sendiri.

Aku tidak punya waktu untuk mengagumi kerapian kamar ini. Pikiranku langsung tertuju pada satu tempat yang paling logis untuk menyembunyikan sesuatu di kamar yang super rapi ini: tempat tidur. Kak Siska adalah orang yang sangat metodis. Dia tidak akan menyembunyikan barang penting di dalam laci meja atau di balik buku pelajaran, karena tempat-tempat itu terlalu sering diperiksa Mama saat membersihkan kamar.

Aku berurut di samping tempat tidurnya. Dengan hati-hati agar tidak merusak lipatan seprai putihnya, aku mengangkat ujung kasur busa yang tebal itu. Mataku langsung membelalak.

Di sana, di antara sela-sela dipan kayu dan bagian bawah kasur yang gelap, tergeletak selembar kertas kalkir besar yang dilipat menjadi empat bagian. Di sampingnya, ada sebuah buku catatan saku berwarna hitam yang sudut-sudutnya sudah mengelupas.

Aku buru-buru menarik kertas kalkir itu keluar dan membentangkannya di atas lantai.

Jantungku mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ini bukan sekadar coretan biasa. Ini adalah sebuah peta jalan yang dibuat dengan tingkat akurasi yang menakutkan. Di bagian pojok kanan atas peta itu, tertulis nama lengkap pemiliknya dengan huruf tegak bersambung yang sangat tegas: Siska Zayla Adiwilaga.

Lihat selengkapnya