Pukul enam sore lewat sepuluh menit. Suasana di luar rumah berangsur-angsur remang, menyisakan warna langit yang ungu pekat seperti memar. Di dalam rumah, atmosfernya makin pengap oleh kecurigaan yang tidak diucapkan. Papa masih sibuk mondar-mandir di ruang tengah sambil menelepon orang kantor, sedangkan Mama mulai menata piring-piring di meja makan dengan ketukan yang terlalu keras.
Aku duduk di anak tangga terbawah, melirik ke arah jendela kaca yang menghadap ke halaman samping. Di atas pagar pembatas beton, seekor kucing jantan berbulu lebat sedang nangkring dengan santai. Namanya Snowy.
Sebenarnya, Snowy bukan kucing peliharaan keluarga Adiwilaga. Kami tidak pernah diizinkan memelihara hewan oleh Mama karena alasan "bikin rumah kotor". Snowy adalah kucing kesayangan Pak RT yang rumahnya tepat di sebelah rumah kami. Namun, karena pekarangan belakang kami berbatasan langsung dengan kebun singkong Pak RT—jalur yang di peta kalkir tadi malam dipilih Kak Siska sebagai rute pelarian utama—kucing itu hobi sekali melompati pagar dan menumpang tidur di teras dapur kami.
Dan selama tiga hari terakhir, Snowy sukses menjadi misteri terbesar di kompleks perumahan kami. Pak RT sampai membuat pengumuman di grup WhatsApp bapak-bapak: Mengapa kucing saya mendadak berwarna hijau mirip monster radioaktif?
Pak RT mencurigai anak-anak kompleks telah berbuat iseng, sementara Mama berulang kali menjerit histeris setiap kali melihat Snowy lewat di pembatas pagar. Beliau mengira kucing itu ketumpahan cairan kimia langka di jalanan.
Tuduhan itu ada benarnya, tapi pelakunya bukan anak-anak komplek yang hobi main bola. Pelakunya adalah aku, dan Snowy adalah subjek uji laboratorium berjalan untuk sebuah eksperimen kimia militer skala domestik.
Aku sedang mengetes formula cat tekstil anti-luntur buatan sendiri.
Dua hari yang lalu, saat aku menyadari Kak Siska mulai merencanakan pelarian dengan sangat matang, aku tahu aku butuh sebuah pelacak fisik yang tidak bisa dihapus atau disembunyikan. Siska Zayla Adiwilaga adalah orang yang sangat higienis dan rapi. Kalau aku mencuri barangnya, dia punya dokumen cadangan. Kalau aku menghalanginya secara verbal, dia akan mengabaikannya. Jadi, aku harus menandai barang bawaannya dengan sesuatu yang radikal.
Eksperimen itu bermula di gudang bawah tangga. Aku mencampurkan bubuk fosfor sisa proyek mading SMP, beberapa tetes alkohol pembersih sirkuit, cat akrilik tekstil warna hijau neon, dan sedikit minyak pelumas encer. Hasilnya adalah sebuah cairan kental berwarna hijau stabilo yang kalau mengering, sifatnya akan menyatu dengan serat kain dan tidak akan hilang walau disikat pakai pemutih pakaian sekalipun.