Kejadian ini sebenarnya terjadi beberapa jam sebelum makan malam tegang kami di rumah, tepatnya pada pukul tiga sore di area SMA Utama Bangsa. Sebelum aku pulang ke rumah untuk memasang akting sakit perut yang legendaris itu, ada satu momen kritis di mana rencana pelarian Siska Zayla Adiwilaga hampir saja tamat prematur di tangan pihak sekolah.
Dan akulah bajingan kecil yang terpaksa meledakkan seisi sekolah demi memberinya perpanjangan waktu.
Setelah Kak Siska berlari meninggalkan Riko di ruang OSIS dengan air mata berhamburan, dia tidak langsung pulang. Siska, dengan segala keteraturannya yang sudah korslet, memilih untuk bersembunyi di laboratorium biologi lantai dua yang untungnya sedang kosong. Dia berniat menenangkan diri, menata ulang berkas-berkas alternatifnya, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap keluar gerbang sekolah saat jam pulang komuter dimulai.
Namun, dia tidak tahu bahwa Pak Bambang, sang guru pembina OSIS yang terkenal killer dan teliti, sedang melakukan inspeksi mendadak setelah heboh isu hilangnya kompas kuno milik ruang Kepala Sekolah.
Aku yang saat itu masih mengintai di sekitar koridor lantai dua sambil memegang sapu ijuk, mendadak melihat Pak Bambang berjalan tegap dengan wajah sekaku papan tripleks, memegang kunci duplikat ruang laboratorium. Di belakangnya, Riko mengekor dengan wajah super panik. Riko berusaha mengulur waktu dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh seputar anggaran OSIS, tapi Pak Bambang mengabaikannya.
"Saya harus memeriksa semua ruangan, Riko. Kompas itu barang antik bernilai sejarah tinggi. Kalau ada siswa yang menyembunyikannya di lab, harus ditindak tegas," suara berat Pak Bambang menggema di lorong sepi.
Langkah kaki mereka berhenti tepat di depan pintu laboratorium biologi. Melalui celah jendela kaca laboratorium yang dilapisi gorden tipis, aku bisa melihat bayangan Kak Siska yang sedang duduk di sudut meja lab, memeluk tas ransel lamanya yang sudah ditandai cat hijau neon. Dia membeku. Jika Pak Bambang membuka pintu itu sekarang dan menggeledah tasnya, kompas kuno dan botol obat oranye itu akan ditemukan. Siska Zayla Adiwilaga akan hancur hari itu juga, bukan karena pelariannya sukses, tapi karena tuduhan pencurian.
Gawat, pikirku. Otakku langsung berputar mencari solusi dalam waktu kurang dari lima detik.
Aku tidak bisa membiarkan Kak Siska tertangkap sekarang. Jika dia hancur di sekolah, dia tidak akan pernah pulang ke rumah, dan dia tidak akan pernah menghadapi "Teori Konspirasi Kulkas" yang sudah kusiapkan di dapur. Kehancurannya harus dicegah, apa pun taruhannya.