Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #16

Bab 16: Hukuman Ragha

Suara detak jam dinding di atas kulkas terasa makin berat dan lambat. Waktu menunjuk pukul enam sore lewat empat puluh menit. Kurang dari lima belas menit lagi menuju pukul 18.45—waktu sakral "Batas Kota" yang tertulis di skrip menu diet palsu milik Kak Siska.

Di meja makan, makan malam darurat kami baru saja selesai dengan suasana yang lebih mirip ruang sidang pengadilan militer daripada ruang makan keluarga. Di kepala meja, Papa duduk dengan sisa amarah yang belum padam, sementara Mama sedang mengumpulkan piring kotor dengan gerakan yang sengaja dihentak-hentak.

"Ragha," suara Papa memecah keheningan dengan nada berat yang langsung mengunci pergerakanku. "Mulai malam ini sampai satu minggu ke depan, kamu Papa hukum tidak boleh keluar rumah setelah pulang sekolah. Tidak ada main sepeda, tidak ada nongkrong sama Riko, dan tidak ada keluyuran ke kebun singkong belakang."

Aku menunduk, menatap sisa kuah sayur di piringku sambil memasang wajah yang paling melas yang bisa kuusahakan. "Tapi, Pa... kan perut Ragha tadi beneran sakit..."

"Nggak usah banyak alasan!" potong Papa tegas, telapak tangannya menepuk meja makan sekali. "Papa sudah dengar dari kepala sekolah SMP kamu lewat telepon tadi sore. Kamu pikir Papa nggak tahu siapa yang mecahin kotak darurat dan memicu alarm kebakaran palsu di SMA sampai satu sekolah bubar? Kamu pikir kepala sekolah kamu nggak tahu kalau gagang sapu ijuk yang tertinggal di depan kotak itu ada ukiran inisial nama kamu?!"

Aku meringis dalam hati. Waduh, aku lupa kalau gagang sapu ijuk dari gudang kelas bawah itu pernah kuukir pakai pisau lipat dengan tulisan RAGHA THE DESTROYER. Kecerobohan taktis yang sangat amatir.

"Kamu ini bener-bener ya, Ragha!" Mama ikut menyambar dari balik wastafel, suaranya naik satu oktav. "Tadi pagi bikin ricuh pakai saus sambal di tas Kakakmu sampai dia batal rapat OSIS. Sorenya kamu malah bikin teror kebakaran di SMA! Mau ditaruh di mana muka keluarga Adiwilaga kalau punya anak pengacau seperti kamu?! Untung Kakakmu, Siska, selalu lurus prestasinya, nggak kayak kamu!"

Di ujung meja, Kak Siska—atau Siska Zayla Adiwilaga—hanya diam membeku. Dia duduk dengan jaket hoodie abu-abu yang masih melekat di tubuhnya, kupluknya diturunkan sebatas dahi. Matanya menatap lurus ke arah piring kosongnya, tapi aku tahu telinganya sedang merekam setiap kata. Dia tahu persis bahwa hukuman dan makian yang kuterima malam ini adalah peluru nyasar yang harusnya bersarang di kepalanya. Kalau aku tidak memicu alarm itu, dialah yang sekarang sedang disidang karena menyimpan kompas curian.

"Dengar tidak, Ragha?! Jangan keluar rumah!" bentak Papa sekali lagi, memastikan hukumanku mutlak.

Lihat selengkapnya