Waktu menunjukkan pukul 18.45.
Jadwal "Batas Kota" yang tertera di pintu kulkas resmi berdentang. Di Stasiun Pasar Senen sana, kereta ekonomi Bengawan jalur selatan mungkin baru saja membunyikan semboyan 35, bersiap meluncur membelah malam menuju Purwosari. Namun di sini, di dapur belakang keluarga Adiwilaga, tidak ada deru mesin kereta. Yang ada hanyalah sunyi yang mencekam, dan sebuah rencana pelarian yang remuk berkeping-keping.
Kak Siska tidak pernah sampai ke kebun singkong Pak RT.
Begitu dia membuka pintu belakang dapur dengan terburu-buru, dia tidak menemukan jalan setapak yang kosong. Di ambang pintu, tepat di bawah temaram lampu luar, aku sudah memasang rintangan terakhir: tumpukan jemuran nilon yang sengaja kubikin kusut melintang, ditambah genangan air sabun dari kurasan mesin cuci yang sengaja dialirkan ke sana. Dan yang paling mematikan, Snowy—si kucing hijau neon milik Pak RT—sedang nangkring tepat di atas pagar pembatas, mengeong keras seolah menjadi alarm berjalan yang langsung memicu kepanikan Mama dari arah dalam.
Kak Siska mundur. Langkah kakinya goyah. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri Adiwilaga yang tersisa, dia tidak kembali ke kamarnya di lantai atas. Dia justru berbelok, membuka pintu kayu yang berat, dan menyelinap masuk ke dalam satu-satunya tempat di rumah ini yang tidak pernah dipedulikan oleh siapa pun: gudang bawah tangga.
Cklek. Pintu gudang tertutup.
Aku melangkah pelan, nyaris tanpa suara, melewati mesin cuci dan wastafel dapur yang masih berisik oleh sisa air. Aku berdiri di depan pintu gudang yang remang-remang. Sesuai hukuman Papa, aku tidak melangkah keluar rumah. Aku tetap di dalam, menjalankan tugasuk sebagai sipir penjara yang paling setia.
Aku menempelkan telingaku ke permukaan pintu kayu yang berdebu.
Awalnya, tidak ada suara. Hanya kesunyian dingin yang pekat. Namun, beberapa saat kemudian, suara itu terdengar. Bukan suara teriakan marah, bukan suara barang dibanting seperti yang biasa dia lakukan di sekolah.
Itu adalah suara tangisan yang sangat lirih. Suara isakan yang ditahan setengah mati di balik telapak tangan, terputus-putus, dan terdengar begitu rapuh.
Siska Zayla Adiwilaga sedang runtuh.