Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #18

Bab 18: Ragha Membongkar Kulkas

Jika ada satu hal yang kupelajari dari kegagalan pelarian Kak Siska tadi malam, itu adalah: Siska Zayla Adiwilaga tidak akan berhenti. Kartu pelajar memang sudah kukembalikan, jadwal kereta jam 18.45 kemarin memang sudah lewat, tapi api di dalam kepala Kak Siska masih menyala. Peta kalkir di bawah kasurnya membuktikan dia punya ratusan skenario cadangan. Selama rumah ini masih sedingin kutub utara, dia akan terus mencari celah untuk mencair dan menghilang.

Hari Kamis ini, alarm bahayaku kembali berdering.

Saat melewati meja makan subuh tadi, aku melihat ada coretan baru di memo jeruk kupas pintu kulkas. Bukan lagi tulisan diet, melainkan sebuah catatan nota belanja bulanan yang janggal: Susu Low Fat (3 Kotak) — Drop Zone Barat (14.00). Kepala jeniusku langsung menerjemahkannya. Hari ini jam dua siang, saat Papa pergi ke kantor dan Mama ada jadwal arisan di aula komplek, Kak Siska akan melakukan percobaan pelarian kedua. Dia memanfaatkan celah kosong dua jam di mana rumah benar-benar tidak berpenghuni.

Sialnya, aku masih dalam masa hukuman kurungan dari Papa. Aku tidak bisa membuntuti Kak Siska ke stasiun atau menahannya secara fisik di ruang tamu lagi karena dia pasti sudah mengantisipasi drama pura-pura sakitku.

"Kalau aku tidak bisa menahan Kak Siska, aku harus membawa pihak ketiga yang tidak bisa dia abaikan," gumamku sambil menatap objek perak di sudut dapur.

Kulkas dua pintu merek Samsung milik keluarga kami. Target operasiku selanjutnya.

Rencanaku kali ini sangat taktis, agak gila, tapi dijamin berhasil. Aku akan menyabotase kulkas ini secara total, lalu menelepon pusat servis resmi agar mereka mengirimkan teknisi tepat pada pukul 13.30—tiga puluh menit sebelum jadwal kabur Kak Siska. Kak Siska, sebagai anak tertua yang ditinggal sendiri di rumah, tidak akan punya pilihan selain berdiri di dapur, mengawasi montir yang sedang bekerja, dan otomatis membatalkan tiket keberangkatannya. Dia terlalu sopan untuk meninggalkan orang asing membongkar aset rumah sendirian.

Pukul sebelas siang. Mama baru saja berangkat arisan dengan taksi online, setelah sebelumnya mengomeliku agar tidak menyentuh peralatan elektronik apa pun selama dia pergi.

Begitu suara pagar depan ditutup, aku langsung berlari ke dapur membawa kotak perkakas merah milik Papa.

"Maaf ya, Kulkas. Ini demi kebaikan bersama," bisikku seraya menarik badan kulkas yang berat itu menjauh dari dinding, menimbulkan suara gesekan keramik yang ngilu.

Aku berlutut di bagian belakang kulkas, tempat di mana sistem kompresor dan sirkuit listriknya tersembunyi di balik paking besi. Menggunakan obeng kembang, aku membuka sekrup penutupnya satu per satu dengan presisi. Di dalam sana, deretan kabel berwarna-warni, pipa tembaga kondensor, dan sebuah kotak hitam bernama kompresor tampak seperti organ dalam monster besi yang sedang tidur.

Aku bukan mau merusak kulkas ini sampai meledak seperti mesin cuci kemarin. Aku hanya ingin memicu kode Error pada sistem digitalnya agar layarnya berkedip-kedip panik.

Lihat selengkapnya