Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #19

Bab 19: Siska Mencoba Membuang Barang Curian

Pukul lima sore. Teknisi kulkas berseragam biru itu baru saja pulang setelah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menyambung kembali kabel sensor defrost biru yang sengaja kupotong. Kulkas perak di sudut dapur kini sudah kembali normal, mendengung halus dengan layar digital yang menampilkan angka ideal "4°C".

Rencana pelarian gelombang kedua Kak Siska pada pukul dua siang tadi resmi gagal total. Dia terpaksa berdiri di dapur selama berjam-jam hanya untuk menemani sang montir, sementara waktu Drop Zone Barat yang ditulisnya di pintu kulkas menguap begitu saja ditelan waktu.

Namun, kegagalan itu tampaknya memicu efek samping yang tidak kuduga. Siska Zayla Adiwilaga, sang Ketua OSIS yang selalu teratur, sore ini terlihat seperti orang yang sedang melakukan pembersihan jejak darurat.

Dari posisi dudukku di anak tangga—menjalani sisa hukuman kurungan dari Papa—aku bisa melihat Kak Siska turun dari kamarnya dengan langkah terburu-buru. Di tangan kanannya, dia menenteng sebuah kantong plastik hitam besar yang diikat rapi. Ekspresi wajahnya tegang, matanya melirik ke kanan dan ke kiri seolah-olah dia sedang membawa hulu ledak nuklir yang siap meledak.

Dia berjalan lurus melewati ruang tengah, mengabaikan keberadaanku, lalu menuju ke arah tempat sampah besar yang terletak di dekat pintu dapur belakang. Dengan satu gerakan cepat, dia melemparkan kantong plastik hitam itu ke dalam tong sampah, lalu berbalik dan kembali naik ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Gerakannya terlalu defensif. Terlalu mencurigakan untuk ukuran orang yang hanya sedang membuang sampah rumahan biasa.

"Ada yang nggak beres," gumamku.

Begitu suara pintu kamar Kak Siska di lantai atas tertutup, aku langsung melompat dari anak tangga. Mengabaikan larangan Papa untuk tidak berkeliaran di dapur, aku mengendap-endap menuju tong sampah besar di dekat pintu belakang. Aku membuka tutupnya, merogoh ke dalam, dan menarik keluar kantong plastik hitam besar yang baru saja dilemparkan Kak Siska.

Plastik itu terasa agak berat dan mengeluarkan bunyi benturan logam yang tumpul saat kuangkat.

Krosak... klenting.

Aku membawanya ke sudut gudang bawah tangga yang remang-remang agar tidak terlihat oleh Mama jika beliau mendadak pulang dari arisan komplek. Dengan hati-hati, aku merobek ikatan tali plastik tersebut dan menumpahkan isinya ke atas lantai semen yang berdebu.

Lihat selengkapnya