Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #20

Bab 20: Ketegangan Memuncak

Pukul delapan malam. Suasana di dalam rumah Adiwilaga malam ini terasa jauh lebih pekat daripada malam-malam sebelumnya. Papa sudah mengurung diri di ruang kerja lantai bawah dengan tumpukan berkas kantor, sedangkan Mama duduk di depan televisi dengan volume suara yang sengaja dikecilkan, sibuk membalas pesan-pesan grup WhatsApp arisannya. Di permukaan, semuanya tampak normal. Namun di koridor lantai dua, sebuah badai tak kasat mata sedang bergerak menuju titik jenuhnya.

Aku sedang duduk di lantai kamarku, bersandar pada pintu lemari pakaian sambil memeriksa kembali tas kecil berisi barang-barang "selamatan" dari tempat sampah sore tadi. Jam tangan rose gold milik Sarah, kompas kuno, dan dompet kulit cokelat milik guru piket itu masih aman di sana.

BRAAK!

Pintu kamarku dihantam terbuka dengan sangat keras hingga membentur dinding.

Aku terlonjak kaget. Di ambang pintu, Kak Siska berdiri dengan napas yang memburu. Kupluk jaket hoodie abu-abunya sudah diturunkan, menampilkan wajahnya yang memerah padat dengan urat-urat kecil yang menonjol di sekitar pelipisnya. Matanya yang sembap dan lelah kini menatapku dengan tatapan yang sanggup menguliti orang hidup-hidup.

Dia melangkah masuk, lalu membanting pintu kamarku hingga tertutup rapat kembali.

"Di mana?" desis Kak Siska, suaranya bergetar hebat karena menahan amarah yang sudah meluap sampai ke tenggorokan.

Aku berusaha tetap tenang, menyembunyikan tas kecil itu di balik kakiku yang terlipat. "Di mana apa, Kak? Kalau mau nyari pulpen, di meja belajar ada—"

"Jangan pura-pura bego lagi, Ragha!" potong Kak Siska dengan setengah berteriak, meski dia masih berusaha menekan volumenya agar tidak terdengar sampai ke lantai bawah. Dia melangkah mendekat, mencengkeram ujung meja belajarku hingga buku-buku SMP-ku bergetar. "Kantong plastik hitam di tong sampah dapur. Aku tahu kamu yang ambil! Aku sudah cek ke bawah, isinya sudah kamu ganti dengan kardus bekas!"

Lihat selengkapnya