Jarum jam dinding di kamarku perlahan merayap melewati angka setengah sembilan malam. Di luar, suara jangkrik komplek saling bersahutan, kontras dengan keheningan mencekam yang mengurung kami berdua di dalam kamar ini. Pintu yang dibanting Kak Siska tadi masih menyisakan getaran samar di udara. Di lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara televisi yang ditonton Mama, mengingatkan kami bahwa dunia di luar kamar ini masih berjalan seperti biasa, acuh tak acuh pada badai yang baru saja pecah di atas sini.
Kak Siska masih berdiri di posisi yang sama, beberapa langkah di depanku. Tangisnya yang meledak-ledak tadi kini telah mereda, menyisakan napas yang sesekali masih tersendat dan mata yang bengkak kemerahan. Dia menghapus sisa air mata di pipinya dengan lengan jaket hoodie abu-abunya yang longgar, mencoba mengumpulkan kembali serpihan harga diri Siska Zayla Adiwilaga yang sempat runtuh.
"Kamu bener-bener anak aneh, Ragha," bisik Kak Siska, suaranya parau, serak karena emosi yang terkuras habis. Dia menatapku, bukan lagi dengan kemarahan buta, melainkan dengan tatapan penuh kebingungan seolah sedang melihat makhluk asing yang mendadak mengacaukan seluruh rumus matematikanya. "Sejak kapan kamu tahu semuanya? Sejak kapan kamu ngawasin aku sampai sedetail ini?"
Aku berjalan mundur, lalu mendudukkan diriku di tepi tempat tidur, membiarkan tas kecil berisi barang-barang curian sekolah itu tetap berada di dekat kakiku.
"Sejak Kakak mulai nulis kode-kode aneh di pintu kulkas," jawabku tenang, menunjuk ke arah pintu luar dengan jempolku. "Kakak mungkin mengira semua orang di rumah ini buta karena sibuk sama urusan masing-masing. Papa sibuk sama berkas kantornya, Mama sibuk sama geng arisan dan ambisinya. Tapi aku? Aku ini pengacau profesional, Kak. Tugas seorang pengacau adalah melihat celah terkecil yang dilewatkan orang lain."
Kak Siska membuang muka, menatap deretan piala tiruan dan buku-buku SMP-ku yang berdebu di rak. "Kode kulkas itu... aku pikir nggak akan ada yang sadar. Itu cuma coretan menu diet."
"Buat Mama, iya. Tapi buat aku, menu diet yang mencantumkan nama stasiun dan jam keberangkatan kereta ekonomi itu namanya proklamasi kemerdekaan yang konyol," aku mendengus pelan, mencoba mencairkan atmosfer yang terlalu tegang di antara kami. "Lagipula, Kakak bikin rencana pelarian tapi ninggalin jejak di mana-mana. Peta kalkir di bawah kasur? Serius, Kak? Itu taktik kuno yang bahkan anak SD pun tahu."
"Aku nggak punya pilihan, Ragha!" potong Kak Siska cepat, kepalanya kembali menoleh ke arahku, matanya berkilat menuntut pemahaman. "Aku harus buru-buru. Setiap hari di rumah ini rasanya kayak dikejar-kejar monster yang nggak kelihatan. Kamu nggak tahu rasanya jadi aku! Kamu... kamu selalu bebas. Kamu bisa dapet nilai jelek, kamu bisa ngerusak blender, kamu bisa dihukum Papa tapi besoknya kamu bisa ketawa lagi seolah nggak terjadi apa-apa. Sementara aku? Satu coretan salah di buku raport bisa bikin Mama nggak tidur semalaman sambil nangis dan bilang aku ngecewain keluarga!"
Dia maju dua langkah, suaranya naik satu oktav namun tetap dijaga agar tidak menembus celah bawah pintu kamarku.
"Aku lelah jadi tameng kebanggaan Mama, Ragha! Aku lelah pura-pura kuat di depan Riko, di depan anak-anak OSIS, di depan guru-guru. Sisi gelap yang kamu sebut tadi—mencuri jam tangan Sarah, mengambil kompas Pak Bambang—itu satu-satunya saat di mana aku merasa memegang kendali atas hidupku sendiri. Saat aku ngambil barang-barang itu, aku merasa... setidaknya aku punya rahasia yang nggak diatur oleh Mama."