Malam semakin larut, melampaui pukul sembilan. Namun, gema dari konfrontasi tadi tidak serta-merta menguap begitu saja dari kamarku. Kak Siska yang tadi sempat berbalik menuju ambang pintu, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia tidak jadi melangkah keluar ke koridor yang dingin. Sebaliknya, dia membalikkan badan, menyandarkan punggungnya pada daun pintu kamarku yang tertutup, lalu perlahan merosot duduk di atas lantai semen beralas karpet tipis.
Tas kecil berisi barang-barang "selamatan" dari tempat sampah itu dia dekap erat di pangkuannya, seolah benda-benda curian itu adalah jangkar terakhir yang menahannya agar tidak hanyut.
Aku yang baru saja hendak memejamkan mata di atas kasur, kembali menegakkan tubuh. Aku ikut turun dari ranjang, mengambil posisi duduk bersila di lantai, tepat beberapa meter di hadapannya. Kamar ini mendadak berubah menjadi ruang pengakuan dosa yang sangat sunyi.
"Gha," suara Kak Siska terdengar sangat tipis, nyaris seperti bisikan yang memotong keheningan malam. "Aku... aku beneran sakit. Bukan cuma capek."
Aku tidak memotong. Aku membiarkan kalimatnya menggantung di udara, memberikan ruang yang selama ini tidak pernah dia dapatkan di meja makan atau di ruang keluarga.
"Dokter bilang aku depresi klinis, Gha. Sudah dari semester lalu," lanjut Kak Siska, matanya menatap kosong ke arah jemari tangannya yang saling bertautan di atas tas. "Botol oranye yang ditemuin Riko itu... itu bukan vitamin atau obat pusing biasa. Itu antidepresan. Tiap kali Mama mulai nuntut aku harus dapet skor sempurna di simulasi UTBK, atau tiap kali Papa pulang dengan wajah datar tanpa mau ngelihat ke arahku, dadaku rasanya kayak dihantam batu besar. Sesak. Aku harus lari ke toilet sekolah cuma buat minum obat itu biar tanganku berhenti gemeteran."
Dia menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar begitu berat untuk anak perempuan seusianya.
"Aku ngerasa kosong, Gha. Semua piala di ruang tamu itu... itu bukan punya aku. Itu punya Mama yang dipinjamkan ke tubuhku. Siska Zayla Adiwilaga yang asli itu nggak pernah ada. Aku cuma robot cetakan yang kalau cacat sedikit, bakal langsung dibuang. Makanya aku pengen kabur. Aku pengen pergi ke tempat di mana nggak ada satu orang pun yang kenal nama Adiwilaga. Aku pengen gagal secara total, biar mereka tahu kalau aku ini manusia, bukan mesin."
Mendengar pengakuan itu secara langsung dari mulutnya membuat dadaku berdenyut nyeri. Prediksimu tentang "Teori Konspirasi Kulkas" memang akurat secara logika, tapi melihat eksekusi emosionalnya secara nyata di depan mata adalah hal yang berbeda. Kakakku sedang sekarat di dalam ruang yang penuh dengan pencapaian.