Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #23

Bab 23: Upaya Ragha Menjadi "Normal"

Setelah malam pengakuan yang emosional itu, sebuah kesepakatan tidak tertulis lahir di antara kami. Kak Siska berjanji untuk mulai menurunkan egonya dan berani berkata "tidak" pada Mama secara perlahan, sementara aku—sebagai adik yang ternyata ber-IQ tinggi namun memilih jalur sesat—membuat sebuah keputusan yang sangat radikal.

Aku memutuskan untuk mencoba menjadi anak "Normal".

Demi mendukung kesehatan mental Kak Siska dan mengurangi beban pikiran di rumah, aku ingin membuktikan kepada Mama dan Papa bahwa aku juga bisa menjadi anak yang lurus, penurut, dan berprestasi dalam semalam. Aku ingin fokus kemarahan Mama berkurang agar atmosfer rumah menghangat.

Sialnya, gen pengacau di dalam tubuhku tampaknya menolak keras konsep "Normal" tersebut. Upayaku bertransformasi menjadi anak teladan justru berujung pada rentetan bencana domestik yang absurd dan gagal total.

Jumat, 06.00 WIB: Transformasi Penampilan

Eksperimen dimulai sejak subuh. Biasanya, aku turun ke meja makan dengan seragam SMP yang berantakan, kerah tertekuk sebelah, kaos kaki beda warna (hitam dan biru tua), serta rambut yang mirip sarang burung hantu habis kena angin puting beliung.

Pagi itu, aku berdiri di depan cermin kamar selama tiga puluh menit. Aku menyisir rambutku belah pinggir dengan bantuan minyak rambut pomade milik Papa sampai klimis dan mengilat seperti aspal basah. Bajuku kumasukkan ke dalam celana dengan sangat rapi, ikat pinggang kupasang simetris, dan kaos kakiku putih bersih tanpa noda.

Begitu aku melangkah ke ruang makan dengan langkah tegap, Mama yang sedang menuangkan susu langsung menjatuhkan kotak kartonnya ke atas meja. Pluk.

"Astaga, Ragha!" Mama menutup mulutnya, matanya melotot ngeri. "Kamu... kamu kenapa? Kamu sakit? Kesurupan apa kamu semalam?!"

Papa yang sedang membaca koran digital di tabletnya langsung menurunkan kacamatanya sampai ke ujung hidung. Beliau menatap rambut klimisku dengan pandangan penuh selidik. "Ragha, kalau kamu mau minta uang saku tambahan buat ganti rugi kotak alarm kebakaran kemarin, taktik merayu seperti ini tidak akan mempan."

Di ujung meja, Kak Siska yang sedang mengoles selai roti hampir saja menyemburkan susu yang baru diminumnya. Dia menunduk dalam-dalam, bahunya terguncang hebat karena berusaha menahan tawa mati-matian melihat penampilanku yang menyerupai panitia sunatan masal.

"Ragha nggak minta apa-apa, Pa, Ma," kataku dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan, mirip pembawa acara berita TVRI zaman dulu. "Mulai hari ini, Ragha ingin menjadi anak yang berbakti, rapi, dan senantiasa membanggakan orang tua."

Mama justru makin panik. Beliau langsung meraba dahiku. "Pa, anak kita beneran sakit. Badannya nggak panas, tapi omongannya ngelantur!"

Jumat, 13.00 WIB: Operasi "Anak Rajin" di Rumah

Lihat selengkapnya