Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #24

Bab 24: Retakan Di Balik Dinding Es

Kehangatan yang sempat singgah di dapur dan ruang belajar kami ternyata tidak bertahan lama. Rumah Adiwilaga seperti sebuah kulkas tua yang termostatnya sudah rusak; sedetik setelah esnya mulai mencair, mesinnya akan mendengung lebih keras dan membekukan segalanya kembali dalam sekejap.

Sabtu malam, pukul sembilan.

Atmosfer di dalam rumah mendadak turun drastis hingga ke titik beku. Di lantai bawah, dari arah ruang kerja Papa, terdengar suara benturan dokumen di atas meja, disusul oleh suara Mama yang meninggi, memotong keheningan malam dengan nada yang tajam dan bergetar.

Aku yang sedang mencoba membaca komik di kamar langsung menegakkan tubuh. Pintu kamarku sengaja kubuka sedikit. Di ujung lorong, pintu kamar Kak Siska juga tampak sedikit renggang. Kami berdua, dari sel masing-masing, kembali dipaksa menjadi saksi bisu dari runtuhnya fasad kesempurnaan keluarga ini.

"Papa jujur sama Mama, jadi selama ini proyek di Bandung itu mandek?!" suara Mama terdengar melengking dari balik pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat. "Terus gimana dengan uang pangkal kuliah Siska tahun depan? Papa tahu sendiri kan kalau Siska harus masuk kedokteran di universitas swasta terbaik kalau jalur tulisnya gagal? Biayanya tidak sedikit, Pa!"

"Ma, bisa diam tidak?!" sahut Papa, suaranya berat, parau, dan dipenuhi tekanan yang luar biasa besar. "Papa ini sedang pusing! Investor mencabut modal karena situasi pasar lagi tidak stabil sejak awal tahun 2026 ini! Bukannya bantu mikir atau hemat pengeluaran, Mama malah sibuk arisan, beli tas baru, dan terus-terusan nuntut Siska harus les di tiga tempat berbeda! Uang kita tidak berseri, Ma!"

"Mama lakuin ini semua demi gengsi keluarga kita, Pa! Demi masa depan anak-anak!" Mama tidak mau kalah, suaranya makin meninggi, hampir mendekati jeritan frustrasi. "Mama tidak mau ya, kalau di grup arisan atau di depan keluarga besar, kita kelihatan susah! Siska itu aset kita, dia harus sukses, dia harus jadi dokter! Kalau Papa tidak bisa biayain, terus muka Mama mau ditaruh di mana?!"

BRAK!

Suara vas bunga kecil atau mungkin pajangan meja yang dibanting terdengar jelas, disusul suara langkah kaki Papa yang menghentak keras, keluar dari ruang kerja dan pergi meninggalkan rumah dengan mobilnya yang menderu kencang membelah malam. Setelah itu, yang tersisa hanyalah suara tangisan tertahan milik Mama di ruang tengah, bersahutan dengan bunyi bip ritmis kulkas di dapur yang terasa makin mengejek.

Lihat selengkapnya