Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #25

Bab 25: Tindakan Kleptomania Terakhir

Tekanan dari pertengkaran hebat Papa dan Mama semalam rupanya menjadi katalis terakhir yang merusak seluruh sistem pertahanan di kepala Kak Siska. Ketika sebuah mesin dipaksa bekerja melewati batas kekuatannya di tengah suhu yang teramat dingin, mesin itu tidak akan sekadar mati; ia akan mengalami malafungsi total yang berbahaya.

Hari Minggu sore, pukul empat. Rumah Adiwilaga terasa seperti kuburan pasca-badai. Papa belum pulang sejak pergi mengendarai mobilnya semalam, sementara Mama mengurung diri di kamar utama dengan pintu dikunci rapat.

Aku baru saja selesai membersihkan sisa-sisa oli di rantai sepedaku di halaman samping ketika ponselku bergetar hebat di saku celana. Ada panggilan masuk dari Riko. Begitu kutekan tombol hijau, suara Riko langsung menyambar telingaku dengan nada panik yang luar biasa tinggi.

"Ragha! Kamu di mana?! Kakakmu ada di rumah nggak?!" seru Riko, suaranya terengah-engah seperti orang habis berlari maraton.

"Aku di rumah, Rik. Kak Siska... harusnya ada di kamarnya dari pagi. Kenapa?" tanyaku, mendadak merasakan firasat buruk yang membuat tengkukku mendingin.

"Gawat, Gha! Satpam sekolah baru saja telepon Pak Bambang. Katanya ada siswa perempuan pakai jaket hoodie abu-abu nekat manjat pagar belakang sekolah jam tiga sore tadi. Dan pas dicek lewat CCTV ruang tengah, lemari kaca pajangan utama di lobi sekolah sudah jebol! Piala Bergilir Walikota yang paling besar... hilang!"

Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. "Piala Walikota? Yang dilapisi kuningan setinggi satu meter itu?"

"Iya, Gha! Itu piala paling sakral di SMA Utama Bangsa! Satpam nggak sempat ngejar karena pelakunya lari cepat banget lewat jalan tikus kebun belakang sekolah. Tapi dari ciri-ciri jaketnya, itu pasti Siska, Gha! Dia kambuh lagi! Kali ini dia nekat ngambil barang paling besar di sekolah!"

Aku langsung mematikan telepon tanpa membalas kalimat Riko selanjutnya. Aku melempar kain lap oli ke tanah, lalu berlari sekencang mungkin menaiki anak tangga menuju kamar lantai dua. Aku menghantam pintu kamar Kak Siska hingga terbuka.

Kosong.

Kasurnya rapi, buku-bukunya berbaris kaku, tapi tas ransel usang dari gudang itu sudah tidak ada di tempatnya.

"Sial, sial, sial!" umpatku.

Lihat selengkapnya