Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #26

Bab 26: Operasi Penyusupan Tengah Malam

Malam itu, pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Kompleks perumahan kami sudah sepi, hanya menyisakan suara embusan angin malam yang dingin dan lolongan anjing penjaga di kejauhan. Di dalam rumah Adiwilaga, suasananya masih sekaku balok es. Papa belum juga pulang, dan Mama tampaknya sudah tertidur karena kelelahan menangis.

Di lantai atas, Kak Siska sudah tertidur pulas di kamarnya setelah kuharuskan minum air putih hangat dan menenangkan diri. Di bawah ranjang kamarku, sebuah objek besar setinggi satu meter yang dibungkus kain sarung kotak-kotak milikku tergeletak melintang.

Piala Bergilir Walikota.

Benda itu harus kembali ke tempat pajangannya di lobi SMA Utama Bangsa sebelum fajar menyingsing. Jika besok pagi pihak sekolah datang dan menemukan piala paling sakral itu lenyap dengan sisa kaca lemari yang pecah, investigasi kepolisian akan dimulai, dan jejak sepatu kets Kak Siska di gudang tua tadi sore bisa menjadi bumerang yang menghancurkan hidupnya.

"Rik, posisi kamu di mana?" bisikku ke arah ponsel yang kutempelkan di telinga. Aku sudah berganti pakaian dengan kaos hitam polos dan celana jins gelap.

"Aku sudah di dekat warung burjo seberang gerbang belakang sekolah, Gha," suara Riko dari seberang telepon terdengar berbisik dengan nada super cemas. "Kamu beneran nekat mau mengembalikan piala itu malam ini? Satpam sekolah, Pak Joko, biasanya patroli keliling setiap dua jam sekali. Jam dua belas malam ini dia pasti jalan!"

"Justru karena dia patroli jam dua belas, kita punya celah lima belas menit sebelum dia kembali ke pos gardu," kataku tenang sambil menyampirkan tas ransel besar berisi perkakas di punggung, lalu mengangkat piala terbungkus sarung itu dengan kedua tanganku. "Pastiin kamu pantau pergerakan senter Pak Joko dari luar pagar. Kalau aman, kasih kode lampu senter HP tiga kali ke arah pohon beringin."

"Oke, Gha. Hati-hati. Kalau kamu ketangkap, jangan bawa-bawa nama Wakil Ketua OSIS ya!"

"Tenang, Rik. Kalau aku ketangkap, aku bakal bilang aku lagi latihan beban bawa piala," candaku sambil mematikan sambungan telepon.

Aku menyelinap keluar lewat pintu dapur belakang, melewati kebun singkong Pak RT yang gelap gulita. Snowy, si kucing hijau neon pelacak itu, tampaknya sedang berburu tikus di sudut lain, karena malam ini jalur pelarianku sangat sunyi. Aku menuntun sepeda jengki tuaku yang sengaja tidak kupasang lampunya, mengikat piala besar itu di boncengan belakang dengan tali karet ban dalam erat-erat agar tidak menimbulkan bunyi benturan logam.

Menggowes sepeda di tengah malam sambil membawa piala setinggi satu meter adalah definisi dari kegilaan murni. Namun, otak jeniusku sudah mengalkulasi rute jalan tikus yang paling minim penerangan lampu jalan dan terhindar dari sorotan CCTV kompleks.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah sampai di balik tembok pembatas belakang SMA Utama Bangsa. Di sana, Riko sudah berdiri dengan wajah pucat di balik pohon beringin tua.

Lihat selengkapnya