Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #27

Bab 27: Jebakan di Balik Kilau Kuningan

Aku baru saja hendak memutar badan untuk merangkak keluar dari balik meja resepsionis ketika sebuah kesadaran mengerikan menghantam kepalaku.

Pak Joko memang sudah berjalan menjauh menuju pos gardu depan, tetapi sorotan lampu senternya yang memudar meninggalkan satu detail yang terlewat oleh kalkulasi jeniusku malam ini. Di atas ubin putih lobi yang bersih, tepat di samping lemari kaca yang baru saja kurapikan, terdapat noda tipis berwarna hijau menyala yang memantulkan sisa cahaya lampu temaram.

Cat fosfor buatan sendiri.

Sial. Sisa cat hijau neon di bagian bawah tas ransel usang Kak Siska yang dia bawa saat menjebol lemari ini sore tadi rupanya sempat luntur dan menempel di sudut bawah lemari kaca. Dan saat aku mengoleskan lem perekat transparan tadi, tanganku tidak sengaja menyenggol noda tersebut, meninggalkan jejak telapak tangan hijau neon yang berpendar samar di dinding kaca.

Aku tersentak. Aku harus menghapusnya sekarang juga sebelum fajar.

Namun, begitu aku melangkah maju mendekati lemari piala, sebuah suara benturan keras terdengar dari arah pintu masuk utama lobi. Bukan suara langkah kaki lambat Pak Joko yang mengantuk, melainkan suara derap langkah yang tergesa-gesa dan berisik.

KLAK!

Saklar lampu utama lobi ditekan dari luar. Dalam sekejap, ruangan luas yang tadinya remang-remang itu langsung dibanjiri oleh cahaya putih benderang dari belasan lampu neon di langit-langit. Mataku menyipit silau, mencoba memproses apa yang sedang terjadi.

"Itu dia pelakunya! Jangan biarkan lolos!"

Suara lengkingan itu bukan milik Pak Joko. Itu suara Pak Bambang, sang guru pembina OSIS.

Aku menoleh dengan cepat ke arah pintu kaca lobi. Di sana, Pak Bambang berdiri dengan wajah yang memerah karena amarah, ditemani oleh dua orang petugas polisi pamong praja kompleks dan Pak Joko yang sekarang mendadak kelihatan sangat segar bugar tanpa rasa kantuk sedikit pun. Di tangan Pak Bambang, sebuah ponsel pintar sedang menyala, menampilkan layar aplikasi pemantau CCTV real-time sekolah.

Aku terjebak. Skenario lima belas menit celah patroli yang kuhitung bersama Riko ternyata adalah sebuah umpan. Pihak sekolah sengaja tidak mengunci seluruh gerbang dan membiarkan lampu lobi mati sore tadi untuk memancing sang pelaku kembali mengembalikan atau mengambil sisa barang bukti di malam hari. Dan aku, dengan segala kepedulianku pada nasib Kak Siska, langsung masuk ke dalam perangkap itu bulat-bulat.

"Ragha?!" Pak Bambang melangkah maju, matanya melotot menatapku yang masih berdiri memegang tas ransel penuh perkakas di depan lemari piala Walikota. "Kamu... anak SMP Utama Bangsa? Adiknya Siska?"

Aku membeku, menatap botol lem instan yang masih ada di genggaman tangan kananku. Penampilanku malam ini—kaos hitam, celana gelap, dan tas penuh obeng di tengah lobi sekolah pada pukul dua belas malam—adalah definisi mutlak dari seorang kriminal yang tertangkap basah.

Lihat selengkapnya