Senin pagi, pukul enam lewat lima belas menit.
Matahari baru saja merangkak naik, memancarkan semburat warna jingga pucat yang menembus celah-celah gorden kamar Siska Zayla Adiwilaga. Biasanya, ini adalah waktu di mana Siska sudah berdiri rapi di depan cermin, memastikan atribut seragam putih abu-abunya terpasang sempurna tanpa satu pun kerutan. Sebagai Ketua OSIS SMA Utama Bangsa, hari Senin adalah panggung utamanya untuk berdiri tegak di samping tiang bendera, memimpin ratusan siswa dengan wibawa yang kaku seperti robot.
Namun pagi ini, Siska masih duduk teraku di tepi tempat tidurnya. Jaket hoodie abu-abu tebalnya masih tergeletak di lantai, bernoda debu merah sisa dari pelariannya ke gudang tua kemarin sore.
Di atas meja belajarnya, sebuah tas kecil berwarna hitam tergeletak dalam kondisi terbuka. Di dalamnya, kilau rose gold jam tangan Sarah, dompet kulit cokelat guru piket, dan tiga botol kosong obat penenang tampak seperti tumpukan hakim yang siap menjatuhkan vonis terkutuk ke kepalanya.
Semua barang itu ada di sana. Selamat. Bersih dari debu.
Tadi subuh, saat Siska terbangun dengan kepala yang pening, dia menemukan tas kecil itu tergeletak dengan rapi di depan pintu kamarnya, bersama selembar memo kecil dengan tulisan tangan yang berantakan dan cakar ayam: 'Semua barang bukti di sekolah sudah beres, Kak. Riko sudah bantu beresin ruang OSIS jam lima subuh tadi. Jangan telat upacara.'
Siska menarik napas panjang, dadanya terasa begitu sesak hingga dia harus mencengkeram pembatas ranjangnya erat-erat. Ragha benar-benar melakukan apa yang dia janjikan malam itu. Adiknya, si pengacau kecil yang selalu dia anggap sebagai beban, telah melompati pagar pembatas dan membersihkan seluruh dosa kleptomanianya dari sejarah SMA Utama Bangsa dalam semalam.
Namun, kelegaan itu langsung hancur berkeping-keping ketika suara histeris Mama terdengar dari arah lantai bawah.
"Papa, ini tidak bisa dibiarkan! Anak itu harus dikeluarkan dari rumah ini!" jerit Mama, suaranya melengking menembus langit-langit kamar Siska, memecah keheningan pagi dengan getaran amarah yang murni. "Dia sudah mencoreng nama baik Adiwilaga! Semalam Pak Bambang nelepon lagi, kepala sekolah mau mengadakan rapat pleno khusus jam delapan pagi ini untuk memproses pemecatan Ragha dari SMP secara tidak hormat!"
Siska tersentak. Kepalanya mendadak pening, jantungnya berdegup kencang seperti dikejar monster. Rapat pleno? Pemecatan?
"Ma, diam dulu. Papa sedang urus surat jaminan ke komite sekolah agar kasus ini tidak sampai ke jalur hukum pidana," sahut suara Papa, terdengar begitu lelah, berat, dan parau di bawah sana. "Ragha sudah mengakui semuanya semalam. Dia yang memicu alarm hari Jumat, dan dia juga yang menjebol lemari piala Walikota itu untuk kepuasan pribadinya. Anak itu... Papa benar-benar sudah lepas tangan."
Siska memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata barunya mulai merebak jatuh membasahi sprei kasurnya.