Pukul delapan pagi tepat. Ruang Kepala Sekolah SMA Utama Bangsa yang biasanya beraroma kopi mahal dan parfum ruangan melati, pagi ini terasa seperti ruang interogasi dengan tekanan udara yang mencekik.
Di tengah ruangan, sebuah meja jati besar memisahkan dua kubu. Di satu sisi, duduk Kepala Sekolah dengan wajah berwibawa namun tegang, didampingi oleh Pak Bambang yang melipat tangan di dada dengan ekspresi kemenangan yang belum pudar. Di sisi lain, Papa dan Mama duduk berdampingan. Wajah Mama bengkak karena kurang tidur dan sisa tangis semalam, sementara Papa terus menatap lantai, meremas kedua telapak tangannya sendiri yang dingin.
Aku? Aku duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan, dikawal oleh seorang petugas keamanan. Posisiku sengaja dipisahkan, seolah-olah aku adalah material berbahaya yang bisa meledakkan ruangan ini kapan saja.
"Pak Adiwilaga, Ibu," Kepala Sekolah membuka suara, nadanya berat dan penuh penyesalan yang formal. "Berdasarkan laporan dari Pak Bambang, bukti rekaman CCTV lobi, serta pengakuan lisan dari Ragha sendiri semalam, pihak yayasan telah mengambil keputusan bulat. Tindakan menyusup dan upaya perusakan fasilitas sakral sekolah di tengah malam tidak bisa ditoleransi. Hari ini, kami secara resmi mengembalikan Ragha ke pangkuan orang tua."
Mama langsung terisak, menutup wajahnya dengan sapu tangan. "Pak... apa tidak ada keringanan? Tolong, Pak. Masa depan Ragha..."
"Ini sudah keputusan final, Bu," potong Pak Bambang dengan nada dingin tanpa kompromi. "Tindakan Ragha ini sudah masuk ranah kriminal. Kami tidak melaporkannya ke polisi saja sudah merupakan keringanan luar biasa demi menjaga nama baik keluarga Anda. Apalagi, kakak Ragha, Siska, adalah Ketua OSIS kita yang sangat berprestasi. Kami tidak ingin aib adiknya mengganggu konsentrasi Siska yang sebentar lagi menghadapi ujian."
Aku hanya menunduk, menatap ujung sepatu ketsku yang bolong. Di dalam hati, aku menghitung mundur. Tiga... dua... satu...
TOK! TOK! TOK!
Pintu kayu ruang Kepala Sekolah diketuk dengan tiga ketukan yang tegas dan keras. Sebelum Sekretaris Sekolah sempat berdiri untuk membuka pintu, daun pintu itu sudah didorong terbuka dari luar.
Siska Zayla Adiwilaga melangkah masuk.
Seluruh orang di dalam ruangan tersentak. Mama langsung menegakkan tubuhnya, menatap anak emasnya dengan pandangan bingung. "Siska? Kenapa kamu ke sini, Nak? Bukannya kamu harusnya ikut kelas pemantapan?"
Siska tidak menjawab pertanyaan Mama. Dia terus melangkah maju dengan tegap. Seragam putih abu-abunya terpasang sangat rapi, tetapi tidak ada lagi ketakutan atau keraguan yang biasa menyelimuti wajahnya. Matanya yang bengkak menatap lurus ke arah Kepala Sekolah, lalu beralih ke arah Pak Bambang.
Di tangan kanannya, dia menenteng tas kecil berwarna hitam—tas yang sama yang kutinggalkan di depan pintunya subuh tadi.