Kehancuran itu tidak selalu terdengar seperti ledakan yang memekakkan telinga. Kadang-kadang, ia terdengar sangat sunyi, seperti suara retakan es tipis di atas danau yang beku, atau seperti helai demi helai kertas piagam penghargaan yang mendadak kehilangan nilainya saat dilemparkan ke atas meja jati ruang Kepala Sekolah.
Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, Mama masih terduduk kaku. Sapu tangan di genggamannya sudah basah kuyup. Matanya yang biasanya memancarkan ambisi tajam yang menuntut, kini menatap kosong ke arah deretan botol obat penenang dan barang-barang curian yang berserakan di depannya.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Mama, suaranya parau, nyaris seperti orang yang kehilangan kemampuan pita suaranya. Beliau menoleh ke arah Papa dengan gerakan patah-patah, berharap suaminya akan berdiri dan membantah semua ini sebagai lelucon. "Pa... katakan kalau Siska cuma sedang tertekan karena ujian... Katakan kalau ini semua ulah Ragha yang menghasut kakaknya..."
"Cukup, Ma. Cukup," potong Papa. Suara Papa tidak keras, tapi nada berat dan bergetar di dalamnya langsung mengunci mulut Mama. Papa melepaskan rangkulannya dari bahuku dan Kak Siska, lalu melangkah mendekati meja Kepala Sekolah. Beliau memunguti botol-botol obat oranye itu satu per satu dengan tangan yang gemetar hebat, membacakan sisa label rumah sakit yang tertera di sana dalam hati.
Kepala Sekolah berdeham, memecah kecanggangan yang luar biasa pekat. "Pak Adiwilaga, Ibu... melihat perkembangan fakta terbaru yang disampaikan oleh Siska, kami... pihak sekolah benar-benar terkejut. Kami tidak menyangka bahwa siswi terbaik kami, yang selama ini menjadi teladan di SMA Utama Bangsa, memiliki... masalah sedalam ini."
Pak Bambang ikut meluruskan posisi duduknya, wajah senangnya yang bersemangat ingin memecatku tadi subuh kini lenyap tak berbekas. "Tentu saja, dengan adanya pengakuan ini, status Ragha sebagai pelaku utama otomatis dibatalkan. Namun, Siska... sebagai Ketua OSIS dan siswi SMA, tindakan ini... tetap memiliki konsekuensi organisatoris dan akademis yang sangat serius."
"Saya tahu, Pak," Kak Siska memotong dengan cepat, memosisikan dirinya tegak di depan meja. Dia melepaskan pin logo OSIS emas yang tersemat di kerah kirinya, lalu meletakkannya di atas meja dengan perlahan, tepat di samping jam tangan rose gold milik Sarah. "Mulai hari ini, detik ini juga, saya mengundurkan diri dari jabatan Ketua OSIS SMA Utama Bangsa. Saya juga siap menerima sanksi skorsing atau apa pun yang diputuskan oleh pihak yayasan."
"Siska! Apa yang kamu lakukan?!" Mama kembali menjerit, berdiri dari kursinya hingga kursinya bergeser ke belakang dengan bunyi mencicit yang nyaring. "Kamu mau menghancurkan semuanya?! Tinggal beberapa bulan lagi kamu lulus! Nilai kamu, masa depan kamu di fakultas kedokteran... semua bisa hilang kalau kamu dicap buruk oleh sekolah!"
Kak Siska berbalik, menatap Mama dengan pandangan yang tidak lagi memancarkan ketakutan. Itu adalah tatapan seorang manusia yang akhirnya berhasil keluar dari penjara bawah tanah yang beku.
"Masa depan yang mana, Ma?" tanya Kak Siska, suaranya tenang tapi menancap begitu dalam. "Masa depan yang bikin aku harus minum obat penenang tiga kali sehari hanya supaya tangan aku nggak gemetaran saat ngerjain soal simulasi? Masa depan yang bikin aku harus mencuri barang teman-temanku sendiri cuma karena aku pengen ngerasa punya kendali atas hidupku? Aku nggak mau jadi dokter kalau harganya adalah kewarasanku, Ma."
Mama melangkah mundur, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Beliau menatap anak emasnya seolah-olah Siska adalah orang asing yang baru saja merebut paksa seluruh kebanggaan hidupnya selama belasan tahun ini. Ambisi besar yang selama ini dirawat Mama dengan ketat—pameran piala di ruang tamu, cerita-cerita kesuksesan di grup arisan, panggung pujian keluarga besar—hari ini runtuh total tanpa menyisakan satu pun puing yang bisa diselamatkan.
Di sudut ruangan, aku melangkah maju dan berdiri di samping Kak Siska. Aku sengaja menarik ujung lengan seragam SMP-ku yang longgar, lalu menyenggol bahunya pelan.