Teori Konspirasi Kulkas

Suci Mulyati
Chapter #31

Bab 31: Rehabilitasi Keluarga

Tiga bulan telah berlalu sejak sidang pleno darurat di ruang Kepala Sekolah yang meruntuhkan menara ekspektasi keluarga Adiwilaga.

Hari Sabtu ini, dapur belakang kami tidak lagi terasa seperti ruang penyimpanan beku di laboratorium sedingin kutub utara. Jendela besar yang menghadap ke kebun singkong Pak RT sengaja dibuka lebar-lebar, membiarkan angin sepoi-sepoi dan aroma tanah basah setelah hujan masuk, mengusir sisa-sisa trauma masa lalu. Di atas meja makan, tidak ada lagi kertas memo jeruk kupas berisi menu diet ketat atau rute pelarian kereta ekonomi. Yang ada hanyalah sebuah vas bunga kaca berisi beberapa tangkai sekulen hijau, ditemani empat cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Rumah ini sedang berada dalam masa transisi pasca-badai. Kami menyebutnya: Fase Defrost Umum.

***

Siska tidak dikeluarkan dari sekolah. Berkat reputasi akademisnya yang luar biasa selama ini, serta intervensi aktif Papa yang membawa surat rekomendasi medis resmi, komite sekolah memutuskan untuk memberikan sanksi skorsing selama dua minggu disertai kewajiban mengikuti konseling psikologis intensif.

Setiap hari Rabu sore, Siska kini memiliki jadwal tetap. Bukan lagi les pemantapan UTBK kedokteran di tiga lembaga bimbingan belajar yang berbeda, melainkan janji temu dengan Dr. Danu, seorang psikolog klinis yang kliniknya bernuansa tenang di pusat kota.

"Awalnya rasanya aneh banget, Gha," cerita Kak Siska sore itu, sambil memutar-mutar sendok tehnya di atas cangkir. Seragam putih abu-abunya sudah diganti dengan kaos santai berwarna pastel. "Biasanya aku masuk ruangan untuk diuji, dituntut dapet nilai seratus, atau diinterogasi soal laporan OSIS. Tapi di ruangan Dr. Danu, aku cuma disuruh duduk di sofa empuk, dikasih teh chamomile, terus ditanya: 'Siska, hari ini kamu ngerasa sedih di bagian mana?'"

Aku yang sedang sibuk membongkar sasis mainan mobil Tamiya lama di lantai dapur mendongak, menyunggingkan senyum miring khas Ragha. "Terus Kakak jawab apa? 'Saya sedih karena adik saya terlalu ganteng dan jenius'?"

"Dih, percaya diri kamu keterlaluan," Kak Siska melempar remasan tisu kecil ke arahku, tepat mengenai dahiku. Dia tertawa—sebuah tawa yang kini terdengar jauh lebih ringan, renyah, dan tidak lagi menyiratkan beban yang dipaksakan. "Aku bilang ke dokternya kalau aku benci warna emas. Aku benci piala. Dan Dr. Danu bilang, itu wajar. Beliau ngajarin aku teknik grounding kalau serangan cemas itu datang lagi. Aku nggak perlu minum obat penenang oranye itu sesering dulu."

Lihat selengkapnya