Hari Minggu pagi selalu punya cara sendiri untuk mendamaikan sisa-sisa ketegangan. Matahari Bandung bersinar cerah, menghangatkan kebun singkong di balik pagar rumah kami yang biasanya terlihat suram. Bau tanah basah sisa embun subuh berpadu dengan aroma gorengan cireng yang samar-samar tercium dari dapur sebelah.
Aku sedang duduk di undakan semen pintu belakang, mengamati Snowy—si kucing hijau neon—yang hari ini tampaknya sudah kembali ke warna aslinya, putih bersih dengan corak abu-abu di telinganya. Zat pewarna makanan yang kugunakan untuk eksperimen pelacakan di Bab 15 akhirnya luntur total setelah diguyur hujan deras tiga hari berturut-turut.
KRETEK.
Suara ranting kering yang diinjak memecah keheningan. Dari balik rimbunnya pohon singkong, muncullah sosok pria paruh baya mengenakan kaos kutang putih, celana pendek kain, dan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah arit, sementara tangan kirinya menenteng sebuah kotak kardus besar berlogo ekspedisi internasional.
Pak RT Agus. Pemilik sah dari kebun singkong, Snowy, dan alarm berjalan komplek kami.
"Woi, Ragha! Sini kamu!" panggil Pak RT Agus, suaranya yang serak-serak basah menggelegar membelah kebun.
Aku langsung berdiri, agak waswas. Otak jenius ADHD-ku langsung memutar kembali memori seminggu terakhir. Apakah ada singkongnya yang tidak sengaja kutebas saat mengejar Kak Siska kemarin? Atau beliau mau menagih ganti rugi karena kucingnya sempat berubah warna mirip mahluk luar angkasa?
"Iya, Pak RT? Ada apa?" tanyaku sambil melangkah mendekati pagar pembatas.
Pak RT Agus berhenti di depan pagar kawat, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, lalu meletakkan kardus besar itu di atas bilah bambu pagar. "Ini. Ada paket buat kamu. Kemarin kurirnya salah antar ke rumah saya, katanya nama penerimanya mirip. Begitu saya baca stikernya, lah, ini mah buat si pengacau cilik sebelah rumah."
Aku mengernyitkan dahi. "Paket? Dari siapa, Pak?"
"Buka aja sendiri. Jangan nanya saya, saya mah cuma kurir dadakan," Pak RT Agus terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang tidak lengkap. Namun, sebelum dia berbalik untuk melanjutkan aktivitas memotong rumput, pria tua itu menatapku dengan pandangan yang mendadak melunak. "Bapak dengar dari papamu... kamu kemarin habis bantuin Siska, ya? Sampai dituduh mencuri di sekolah segala?"
Aku tertegun, agak kikuk kalau harus membahas masalah domestik di depan orang luar. "Ah... itu cuma salah paham kecil kok, Pak RT."