Senin pagi kembali bergulir. Bagi SMA Utama Bangsa, hari Senin pukul tujuh adalah waktu di mana kedisiplinan diuji di bawah terik matahari lapangan utama. Namun bagi Siska Zayla Adiwilaga, Senin kali ini adalah sebuah awal dari upacara yang sama sekali berbeda dalam hidupnya.
Dia tidak lagi berdiri di podium barisan depan dengan map jepret kulit di dada. Pagi ini, Siska berdiri di barisan paling belakang kelas XII-IPA-1, tenggelam di antara kerumunan siswi lainnya. Tanpa pin OSIS emas di kerah seragamnya, tanpa ban lengan bertuliskan "KETUA", dia merasa penampilannya jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya, pundaknya tidak terasa tegang, dan pasokan oksigen yang masuk ke parunya terasa penuh, tidak lagi tersendat oleh kecemasan yang mencekik.
Di atas podium lobi, Riko—yang kini resmi naik jabatan menjadi Ketua OSIS definitif—sedang membacakan teks pancasila dengan suara yang sedikit gemetar karena gugup. Siska menatap sahabatnya itu dari jauh, menyunggingkan senyum tulus yang bebas dari rasa iri atau bersalah.
"Kamu beneran nggak apa-apa, Sis?" bisik Sarah, anak bendahara OSIS yang berdiri di sebelahnya. Gadis itu melirik pergelangan tangannya sendiri, di mana jam tangan rose gold Michael Kors miliknya melingkar dengan aman setelah sempat "diselamatkan" olehku dari tempat sampah.
Siska menoleh, lalu mengangguk mantap. "Aku justru baru ngerasa beneran hidup hari ini, Sar."
Senin, 14.00 WIB: Penyerahan Jabaran Resmi
Begitu bel pulang sekolah berbunyi, ruang OSIS yang biasanya dipenuhi oleh tumpukan proposal dan perdebatan anggaran, mendadak senyap. Siska duduk di kursi kayu tengah, menghadap ke arah Riko, Pak Bambang, dan lima anggota inti pengurus harian.
Di atas meja, lembar dokumen Surat Keputusan (SK) Pengunduran Diri dan Berita Acara Serah Terima Jabatan sudah ditandatangani.
Pak Bambang, yang biasanya terkenal kaku dan bermata elang, menatap Siska dengan pandangan yang jauh lebih manusiawi dari biasanya. Kasus piala Walikota di bab-bab sebelumnya tampaknya tidak hanya mengubah konseptual keluarga kami, melainkan juga meruntuhkan cara pandang guru killer itu terhadap murid-murid berprestasi.
"Siska," Pak Bambang berdeham, melunakkan suaranya. "Pihak yayasan dan komite sudah menerima surat ini secara resmi. Kami menghormati keputusanmu untuk fokus pada pemulihan kesehatan dan persiapan ujian mandiri. Sekolah berterima kasih atas seluruh dedikasi yang kamu berikan selama satu tahun terakhir."
"Terima kasih kembali, Pak. Mohon maaf jika selama memimpin, saya banyak menyusahkan pihak sekolah," jawab Siska dengan nada yang tegas namun santun.
Riko menerima berkas itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Begitu Pak Bambang melangkah keluar dari ruangan untuk memberikan privasi bagi anak-anak OSIS, Riko langsung mengembuskan napas panjang dan merosot di kursinya.