Kulkas perak dua pintu di sudut dapur kami kini tidak lagi menjadi objek penyelidikan. Mesinnya mendengung stabil, layarnya menampilkan angka ideal 4°C tanpa kedipan kode eror, dan permukaannya bersih dari coretan kode pelarian. Namun, bagi seorang Ragha, otak yang didiagnosis memiliki kombinasi ADHD dan Highly Gifted ini tidak bisa dibiarkan menganggur tanpa sebuah hipotesis.
Jika sebulan lalu fokus utamanya adalah "Teori Konspirasi Kulkas" untuk menyabotase jalur pelarian Kak Siska, maka hari ini, di bawah rona lampu kamar yang hangat, aku resmi meluncurkan cetak biru untuk proyek terbaru: "Proyek Alkemis Es: Strategi Pemulihan Siska Zayla".
Aku duduk di lantai kamarku, mengabaikan robot Arduino dari Pak RT Agus sejenak, dan membuka lembar baru di buku catatan harian cakar ayamku. Di bagian atas halaman, aku menuliskan tiga aturan dasar yang baru:
Senin, Selasa 16.00 WIB: Eksperimen Dopamin Alami
Eksperimen pertama dimulai sore ini di halaman belakang. Berdasarkan jurnal psikologi remaja yang sempat kukorek dari meja kerja Dr. Danu saat mengantar Kak Siska terapi minggu lalu, penderita depresi klinis akibat burnout membutuhkan aktivitas fisik yang menghasilkan hasil instan untuk merangsang rasa memegang kendali atas hidup, tanpa ada bayang-bayang kegagalan.
Maka, aku menyeret dua buah pot plastik besar, beberapa kantong tanah humus, dan tiga ikat bibit tanaman stroberi yang kubeli dari sisa uang saku di pasar komplek.
"Gha, kamu mau bikin panggung sirkus baru lagi di kebun Pak RT?" tanya Kak Siska, melongokkan kepalanya dari pintu dapur belakang. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, wajahnya polos tanpa beban, memegang sebuah buku novel fiksi—bukan lagi jurnal olimpiade biologi.
"Bukan, Kak. Ini adalah proyek kerja sama interdisipliner antara Fisika Mekanik dan Biologi Terapan," kataku sok keren, sambil menepuk-nepuk karung tanah. "Aku butuh keahlian botani mantan Ketua OSIS. Aku mau bikin sistem penyiraman otomatis pakai sensor kelembaban tanah Arduino, tapi aku nggak tahu cara nanem stroberi yang bener agar nggak mati kena arus pendek."
Kak Siska mengernyitkan dahi, namun ada binar ketertarikan yang melintas di matanya. Sisi jenius biologinya yang murni—yang selama ini terkubur di bawah ambisi kedokteran Mama—mendadak terusik.
Dia berjalan mendekat, lalu berjongkok di atas tanah gembur. "Nanem stroberi itu nggak bisa asal tancep, Ragha. Akarnya sensitif, tanahnya harus dicampur sekam bakar dulu supaya porositasnya bagus. Sini, biar aku yang atur komposisi tanahnya."
Aku tersenyum miring, perlahan mundur dan membiarkan Kak Siska mengambil alih sekop kecil.