Pukul lima sore. Langit Bandung di luar jendela dapur menampilkan semburat warna lembayung yang teduh, seolah turut merayakan kedamaian yang perlahan mengendap di dalam rumah Adiwilaga. Udara sejuk khas pegunungan masuk melewati celah gorden jendela belakang yang sengaja dibiarkan terbuka lebar, berpadu dengan aroma manis panggangan roti yang memenuhi seisi ruangan.
Di sudut dapur, sebuah kulkas perak dua pintu berdiri dengan kokoh. Tidak ada lagi dengungan berisik yang mengancam seperti mesin penjelajah waktu yang salah cetak. Tidak ada lagi kode eror E5 yang berkedip panik di panel digitalnya. Permukaan pintunya yang mengilat kini bersih dari sisa-sisa lem kertas, memo diet palsu, ataupun coretan kalkulus rute pelarian kereta ekonomi ke Jawa Tengah.
Aku melangkah mendekati kulkas itu dengan langkah santai, mengenakan kaos oblong hitam dan celana pendek longgar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang penyelidikanku, aku tidak membawa tas perkakas merah milik Papa. Tidak ada obeng plus di saku belakangku, tidak ada tang potong di genggamanku, dan tidak ada cetak biru "Teori Konspirasi" di balik kausku.
Aku meraih pegangan pintunya, menariknya perlahan, dan mendengarkan suara klik mekanis yang halus serta embusan uap dingin yang menyapu wajahku.
Aku menatap ke dalam rak-raknya yang terang benderang oleh lampu LED putih.
Di rak paling atas, kini berjejer rapi tiga toples kaca besar berisi selai stroberi rumahan—hasil panen perdana dari pot-pot tanaman stroberi di halaman belakang yang kurawat bersama Kak Siska. Di sebelahnya, terdapat wadah plastik transparan berisi adonan kue sus dan puding cokelat buatan Mama, siap untuk dipasarkan lewat usaha kecil-kecilan "Dapur Adiwilaga".
Di rak tengah, tidak ada lagi botol oranye obat penenang yang disembunyikan di balik wadah yogurt. Tempat itu kini dihuni oleh tumpukan kotak susu segar, beberapa bungkus sosis, dan satu mangkuk besar buah apel yang sudah dicuci bersih. Di rak paling bawah, kompartemen sayuran dipenuhi oleh daun selada segar, wortel, dan tomat merah yang merekah.
Kulkas ini telah kembali ke fungsi hakikinya. Ia telah mengalami proses defrost total. Benda ini kini benar-benar hanya berisi makanan, bahan masakan, dan kesegaran yang menghidupkan—bukan lagi konspirasi, bukan rahasia gelap, dan bukan beban ekspektasi yang membekukan jiwa.
"Ragha! Jangan cuma diliatin pintunya, nanti suhu internalnya turun lagi!" tegur sebuah suara dari arah meja makan.
Aku menoleh sambil tersenyum miring, lalu mengambil sebotol air dingin dan menutup pintu kulkas dengan dorongan siku yang pas. Di meja makan, Siska Zayla Adiwilaga sedang duduk dengan santai. Rambutnya tidak lagi dikuncir kaku ala formalitas organisasi, melainkan digelung asal-asalan dengan jepitan badai. Di depannya bukan lagi tumpukan soal simulasi UTBK Kedokteran, melainkan laptop yang menampilkan draf awal esai pendaftarannya untuk jurusan Biologi Murni di universitas negeri.
Wajahnya tidak lagi pucat pasi. Rona merah alami kini kembali di pipinya, dan sepasang matanya tidak lagi memancarkan kekosongan yang menakutkan seperti tiga bulan lalu.