Suara riuh penonton basket class meeting sore itu saat udara makin dingin dan langit mendung membuat semua orang semakin bersemangat untuk mengetahui kelas mana yang akan memenangkan class meeting dalam cabang olahraga basket. Kelas 12 IPS 1 di adu dengan kelas 11 IPA 2 di babak terakhir final basket, hal yang cukup biasa jika ada kelas yang tidak berpartisipasi akan mendapatkan denda dan tentu saja mereka cukup adil karena tidak ada kelas paling unggul dalam cabang olahraga tertentu termasuk kelas Khalid, dia mungkin satu-satunya mantan kapten tim basket, tapi tetap sama saja jika teman satu kelasnya tidak ada yang cukup baik di bidang tersebut, artinya dia harus menjadi pioner utama.
Bola terakhir saat Khalid memasukkan kedalam ring bersamaan dengan riuh dan juga penonton yang mulai turun berbagi kebahagiaan. Khalid tertawa puas, namun bersamaan dengan itu juga matanya menangkap satu sosok yang kabarnya menarik semua pria di sekolah, Abigail. Namanya Theresia Abigail, anak kelas 10 dan termasuk anak baru. Rambut panjang berwarna hitam kecoklatan, mata coklat terang, dan jangan lupakan bahwa wanita itu jelas menarik karena proporsi tubuhnya yang pas.
“Mau nyobain yang itu? Agak susah.” Bisik Steve membuat Khalid menoleh tipis memahami apa yang Steve katakan.
Khalid bukanlah pria suci yang bahkan belum pernah merasakan apa itu seks, apalagi ciuman. Bahkan Khalid sudah lupa wanita mana yang pertama kali ia tiduri, namun dia juga bukan orang bodoh yang akan gampang dikelabui seorang wanita. Hubungan antara pria dan wanita yang Khalid anut adalah sebuah hubungan tanpa perasaan, bisnis dimana Khalid mendapatkan apa yang ia mau dan memberikan apa yang wanita itu inginkan, kemudian selesai.
Susah memiliki banyak artian, namun dari wajah Abigail terlihat jelas bahwa wanita itu datang dari kehidupan yang tidak pernah melihat hal-hal negatif. Seseorang pernah mengatakan, setiap manusia perlu mengetahui negatif dan positifnya kehidupan, melihat hal positif saja tidak akan menjadikannya manusia paling suci, karena hal negatif itu tidak sepenuhnya buruk, bisa jadi itu adalah sebuah pandangan agar kita bisa mengetahui bahwa hal baik itu tidak selalu berada dalam lingkaran kita terus.
Hujan tiba-tiba turun, semua orang berlarian untuk mencari tempat yang teduh. Termasuk juga Khalid yang berjalan menuju ke lorong kelas, hari ini telah berakhir dan dia hanya akan pulang sebentar kemudian pergi lagi untuk bersenang-senang. Setelah mengambil tas dan barangnya yang ada di kelas, Khalid berjalan menuju ke parkiran mobil. Namun langkahnya terhenti saat melihat Abigail sendirian di ujung lorong, dia memeluk buku di depan dadanya, memandangi air yang turun dari langit dengan wajah cerah. Tanpa Khalid sadari, dia ikut tersenyum melihat Abigail, wanita itu jelas menarik semua orang bukan hanya tubuhnya, tapi juga perangainya yang baik.
Hanya saja malam ini setelah 4 tahun berlalu, saat suara live music masih mengalun dengan indah, Khalid melihat wanita dengan penuh keceriaan lima tahun yang lalu sama seperti wanita yang tidak memiliki harapan, jauh lebih parah dari itu. Abigail yang dia lihat disekolah kala itu berbeda dengan Abigail yang ada di depan matanya saat ini, wajahnya nampak marah dan pria itu hampir saja menampar pipi Abigail kalau Khalid tidak menangkis tangan pria eropa tersebut.
Pria itu nampak kesal, namun kemudian tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja meninggalkan Abigail disana. Pandangan Abigail sejenak melihat ke arah Khalid, hanya sebentar lalu kembali fokus pada segelas minuman yang sudah tinggal beberapa tetes saja.
“Abigail.” Sebut Khalid yang membuat wanita itu kembali menoleh ke arahnya dengan sedikit terkejut seakan sudah lama dia tidak mendengar namanya sendiri.
”Siapa kamu?”
Jelas Abigail tidak akan mengenal Khalid lagi, masanya sudah sangat jauh dan hubungan mereka hanya sebatas saling menyapa, bukan yang dekat seperti yang semua orang pikirkan.
”Khalid.”
Abigail menyipitkan matanya, menelusuri dari atas hingga bawah, “Khalid Demian?”
Khalid tersenyum tipis, setidaknya wanita itu tidak akan melupakan nama keluarga Demian, siapapun mengenalnya karena hal itu.
”Bagaimana kamu bisa ada disini?” Pertanyaan Abigail membuat Khalid melihatnya bingung, siapapun bisa berada ditempat itu termasuk dirinya, masalahnya justru kenapa Abigail bisa berada disana, Khalid tidak munafik jika Abigail datang dari keluarga cemara yang sederhana. Indonesia ke Barcelona bahkan negara-negara di sekitarnya itu membutuhkan lebih banyak uang dan sekarang setelah bertahun-tahun, dia melihat Abigail di Mallorca, sekali lagi Palma de Mallorca.