Suara desahan menggema di seluruh penjuru ruangan dengan pencahayaan yang minim, aroma woody maskulin terasa lebih pekat. Berada di tempat yang jelas dengan tegas menyatakan siapa pemiliknya. Tubuh Theresia hampir tidak bisa bergerak dibawah kukuhan pria itu, terlalu kuat dan menuntut hingga ia bahkan tidak bisa mengimbanginya dengan baik.
Setiap kulit yang bersentuhan layaknya sengatan listrik yang membuat jantungnya berdebar, pandangan mereka beberapa bertemu dan berakhir pada ciuman yang lebih liar dan panas.
Tangan Khalid menyentuh dada Theresia, meremasnya, memainkan nipple payudara wanita itu yang mengeras sempurna. Tubuh bawahnya menghujami milik Theresia, tidak membiarkan wanita itu bernafas sejenak, suara desahan terus keluar dari bibir manisnya.
“Arrghh… sial kamu sangat seksi Ther…” Khalid menggerakkan pinggulnya naik turun semakin cepat, menambah tempo lebih intens.
Keduanya semakin dekat, semakin menuntut lebih. Hingga desahan pelepasan itu terdengar dan tubuh Khalid sedikit memberikan jarak melepaskan diri dan mengubah posisi di sebelah Theresia.
Tidak ada suara apapun, tubuh mereka hanya saling memberikan kepuasan tanpa sebuah perasaan. Theresia menarik selimut, membiarkannya terlelap diantara perasaan yang tidak bisa ia jelaskan sendiri. Jatuh cinta itu perkara yang tidak mudah, namun bertemu dengan Khalid terasa berbeda. Pertemuan pertama setelah sekian lama dengan tanda serta kedekatan yang tidak biasa baginya. Tapi mungkin bagi Khalid tidak sama, hiburan biasa yang bisa di bayar dan Theresia mengakui bahwa ia membutuhkannya.
Pagi itu untuk pertama kalinya Theresia bisa melihat dengan jelas bahwa villa milik keluarga Demian tidak biasa, jelas mereka kaya raya. Ia pikir Demian adalah keluarga kaya pada umumnya di Jakarta, kenyataannya tidak. Kemeja kebesaran milik Khalid melekat di tubuh rampingnya saat ia keluar dari kamar utama, pemiliknya masih belum terbangun.
“Selamat pagi nona Theresia…” sebuah sapaan lembut sedikit membuat Theresia kikuk, bukan kali pertama mereka bertemu. Sebelumnya Theresia pernah bertemu dengan wanita itu saat meninggalkan villa ini terburu-buru di pagi hari.
“Saya Bianca, jika membutuhkan apapun bisa katakan kepada saya,” lanjutnya sambil mengulas senyuman.
“Terima kasih,” Theresia masih berpikir apa yang Bianca bayangkan tentangnya saat melihat keluar dari kamar Khalid lagi, mereka tidur bersama dan itu jelas jika melihat penampilannya sekarang.
“Koper milik nona ada di kamar.”
“Kamar?” Theresia sedikit bingung, ia bahkan tidak tau kamarnya dimana.
“Saya akan mengantarkan nona ke kamar yang sudah disediakan.”
Bianca berjalan lebih dulu menaiki tangga menuju ke lantai dua, sama seperti kamar utama yang berada di lantai dua, saat pintu itu terbuka. Sebuah ruangan yang juga nyaman namun memiliki ukuran sedikit lebih kecil dari kamar utama, terlihat disana juga ada kopernya juga beberapa totebag diatas ranjang.
”Tuan Khalid menyiapkan untuk nona,” ujar Bianca yang langsung menjelaskan pertanyaan di kepala Theresia sebelum ia bertanya.