Hujan belum juga reda.
Orang-orang di halte mulai berganti. Ada yang datang, ada yang pergi. Hanya kita yang masih berdiri di tempat yang sama, seperti dua kenangan yang belum selesai dibicarakan.
Kamu mengeluarkan payung dari tas. Payung hitam yang langsung kukenali.
“Kamu masih pakai itu?” tanyaku tanpa sadar.
Kamu melihat payung itu, lalu tersenyum tipis.
“Masih bisa dipakai.”
Dulu, payung itu terlalu kecil untuk berdua.
Tapi kamu selalu memaksakan. Bahuku basah, lenganmu kuyup, tapi kita tertawa seolah dunia hanya selebar lingkar payung itu.
Sekarang payung itu terlipat rapi di tanganmu.
Dan tak satu pun dari kita bergerak mendekat.
“Kamu… apa kabar?” tanyamu pelan. Bukan basa-basi. Lebih seperti orang yang takut mendengar jawaban.
“Baik,” jawabku. Jawaban paling aman di dunia.