Ruang praktek itu selalu dirancang untuk memberi ilusi ketenangan. Sebuah lukisan anak-anak yang bermain di bawah air terjun terpajang di dinding, bersanding dengan deretan buku psikologi yang tersusun presisi dan pigura ijazah spesialis jiwa milik Nonik. Bagi orang biasa, ruangan ini adalah tempat berlindung.
Namun, begitu lelaki berwajah lesu itu melangkah masuk, atmosfer ruangan seolah mendadak menyempit.
Pria itu kurus. Kemeja kotak-kotak ungu-putih yang dikenakannya tampak rapi dengan cara yang dipaksakan—seperti seseorang yang berusaha keras berpura-pura menjadi manusia normal.
"Silakan duduk, Pak Rivo," sapa Nonik seramah mungkin, menutupi desakan instingnya yang mendadak waspada.
Pria itu—Rivo Candra—tidak langsung duduk. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan dengan ketelitian yang aneh. Bukan tatapan takut, melainkan seperti seorang prajurit yang sedang memetakan jalur evakuasi.