"Silakan rileks, tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sini. Anda bisa mulai kapan pun. Sebelumnya, boleh saya tahu latar belakang Anda, Pak Rivo?" tanya Nonik.
Rivo bersandar di sofa. Dia mencoba untuk tenang. Sandaran sofa itu membuatnya rileks—empuk dan membuat persendiannya tidak lagi kaku. Matanya beralih ke arah Nonik. Perempuan berusia tiga puluh tahun itu memperhatikannya dengan sabar.
"Apakah saya harus menceritakan semuanya?" tanya Rivo.
"Kalau memang itu hal yang penting, maka harus diceritakan. Tetapi jika ada hal yang belum ingin Anda bagikan, tidak apa-apa. Saya menghargai privasi Anda. Hanya saja, karena konseling ini bertujuan untuk memahami apa yang sedang terjadi pada Anda, mengetahui pokok persoalannya adalah hal yang paling krusial di sini," jelas Nonik lembut.
Rivo menarik napas panjang. "Baiklah. Tapi saya ingin Bu Dokter tidak menilai saya terlebih dahulu. Jangan judge saya. Sebab, saya ingin Bu Dokter menolong saya."
Jari-jemari Rivo sedikit gemetar. Ada sisi gelap yang selama ini rapat-rapat dia sembunyikan dari dunia. Namun kali ini, dia ingin mengungkapkan segalanya.
"Saya telah melakukan hal yang buruk," ucap Rivo pelan. "Sangat buruk, Dok. Andai orang-orang menghujat saya pun, saya akan terima."
"Pelan-pelan saja. Kita punya banyak waktu hari ini," ujar Nonik menenangkan.
"Semua berawal dari masa kanak-kanak. Saya tumbuh dari keluarga yang harmonis. Meskipun orang tua saya bekerja seadanya dan penghasilan kami tidak banyak, hidup kami sangat bahagia. Ibu saya pandai menjahit, sementara Ayah ahli membuat apa saja. Sedangkan saya... boleh dibilang anak yang sangat pintar. Bahkan sebelum masuk TK, saya sudah bisa membaca dan berhitung di saat anak-anak sebayaku masih kesulitan."
Rivo mengalihkan pandangannya ke luar jendela sejenak sebelum melanjutkan.