"Jadi, Pak Rivo menyaksikan peristiwa itu tepat di depan mata?" tanya Nonik.
Rivo mengangguk. "Nenek langsung memeluk dan menggendong saya agar tidak melihatnya lagi. Tapi kepala itu... kepala itu tetap saja berbayang-bayang di ingatan saya. Terkadang saat saya sedang sendirian, sedang stres karena tekanan hidup, benda itu menggelinding begitu saja di depan saya dan berbisik, 'Kamu baik-baik saja?'"
Jari-jemari Nonik bergerak cepat di atas buku catatan. Dia menulis dua kata diagnosis sementara: Psikotik dan Skizofrenia.
"Apakah sosok kepala itu sering muncul?" tanya Nonik tanpa mengalihkan pandangan.
Rivo mengangguk pelan. "Tapi itu bukan masalah lagi sekarang, Dok. Sosok itu sudah menghilang."
Dahi Nonik berkerut. "Menghilang?"
"Iya, sudah tidak pernah muncul lagi."
"Bagaimana bisa? Sejak kapan?"
"Maaf, Bu Dokter. Cerita saya belum selesai. Boleh saya lanjutkan?" Rivo memotong dengan sopan namun tegas.
Nonik berdehem, menyadari ia sedikit terlalu cepat memotong. "Oke, silakan dilanjutkan."
"Setelah kejadian di pasar itu, saya jadi lebih sering melihat kepala menggelinding. Entah itu bisa disebut halusinasi atau apa, tapi bayangan itu terus berulang. Saat saya sedang belajar, sedang makan, bahkan saat di kamar mandi. Awalnya saya sangat terganggu. Bagaimana tidak? Saya masih bocah, dan nyaris setiap hari kepala menggelinding itu datang menatap saya, seolah-olah dia menuntut agar saya membalaskan dendamnya.
"Waktu berlalu dan saya mulai terbiasa. Malah, kepala menggelinding itu sempat jadi tempat saya mencurahkan isi hati. Sampai akhirnya, tibalah suatu peristiwa yang menjadi puncak keguncangan emosi saya."
Rivo menyesap teh melatinya yang mulai hangat-hangat kuku. Dia menarik napas panjang. Raut wajahnya mengeras; cerita yang akan meluncur berikutnya jelas jauh lebih berat dibanding sebelumnya. Nonik menunggu dengan sabar.
"Saya sangat menyayangi Ibu dan Ayah," lanjut Rivo dengan suara yang memelan, berubah dari saya menjadi aku saat emosinya mulai menguasai. "Walaupun kami hidup pas-pasan, kami sangat bahagia. Sampai suatu ketika, ada seorang pria yang masuk ke kehidupan kami. Pria ini jelek, masih jauh lebih tampan Ayahku. Tapi entah kenapa Ibuku bisa tergila-gila padanya, seperti kena sihir. Tapi aku yakin, dokter seperti Anda pasti tidak percaya hal-hal mistis seperti ini. Hanya saja, tolong jelaskan padaku... bagaimana seorang wanita cantik seperti Ibuku, yang punya suami setia dan tampan seperti Ayahku, bisa tergoda oleh pria yang tidak punya apa-apa? Wajahnya tidak menarik, harta pun tidak ada, tapi dia berhasil membuat Ibuku lupa diri."