Terapi

Archie Noir
Chapter #4

Bagian 3

"Kalau Bu Dokter tidak keberatan, saya ingin merokok," ucap Rivo mendadak, menghentikan ketegangan yang menggantung di udara.

Nonik ragu sejenak. "Maaf, tapi ruangan ini ber-AC."

"Iya, saya tahu. Apa tidak bisa... yah, sebatang atau dua batang saja? Setelah itu silakan nyalakan lagi AC-nya. Saya butuh rileks untuk menceritakan bagian selanjutnya," pinta Rivo dengan nada memohon yang tenang.

Nonik berpikir sejenak, lalu akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Ia mematikan pendingin udara, memutar engsel jendela, dan menyibak gorden lebar-lebar. Seketika itu juga, aroma segar dedaunan dan bunga dari taman kecil di halaman samping masuk terbawa angin.

"Sebentar, saya ambilkan asbak dulu," ujar Nonik.

Nonik melangkah keluar, meninggalkan Rivo sendirian di dalam ruangan.

Pria itu menatap ke luar jendela. Dedaunan hijau dan kelopak bunga yang berayun pelan memanjakan matanya. Sekilas, matanya agak berkaca-kaca saat ingatan masa kecilnya terlempar kembali—teringat pada tanaman-tanaman hias yang dulu dirawat dengan penuh kasih oleh ibu dan neneknya. Jika sehari saja tidak disiram, beliau berdua bisa sedih dan memarahinya habis-habisan.

Suara detik jam dinding di ruangan itu mendadak terdengar kencang di tengah kesunyian. Rivo merogoh kantong kemejanya, mengeluarkan sebungkus rokok bermerek Surya. Jari-jemarinya memutar-mutar bungkus kotak itu sembari menunggu sang psikiater kembali.

Sementara itu, di lorong samping yang sepi, Nonik berjalan mondar-mandir dengan asbak kaca di genggamannya. Hatinya dipenuhi keraguan. Jelas sekali sebentar lagi Rivo akan membeberkan sebuah pengakuan kejahatan. Sepanjang kariernya, ia belum pernah menangani pasien dengan indikasi gangguan jiwa yang sekaligus berpotensi menjadi pelaku kriminal berat.

Kode etik memagari kerahasiaan pasien, tetapi insting kewaspadaannya berteriak. Setelah merenung sejenak, ia mengambil ponsel dari saku jas medisnya.

Ia mengingat seorang sahabat lamanya di kepolisian—Ahmad Sufyan. Pria itu kini menjabat sebagai Ajun Komisaris Polisi (AKP). Meski ragu, Nonik menekan tombol panggil.

"Halo, Sopi?" sapa Nonik pelan.

Lihat selengkapnya