Rivo mengisap rokoknya lagi, lalu mengembuskan asap tipis dari hidung dan mulutnya. Kepulan asap itu langsung terhisap keluar lewat celah jendela. Angin dari luar seolah membantu menjaga udara di dalam ruangan tetap bersih.
"Bu Dokter punya ruangan dengan sirkulasi udara yang bagus. Jujur, saya sangat nyaman di sini," celetuk Rivo.
"Langsung saja, Pak Rivo," sela Nonik lembut namun terarah. "Dari apa yang Bapak sampaikan, sebenarnya saya sudah mulai memahami latar belakang situasi Anda. Hanya saja, saya rasa ada hal krusial lain yang ingin disampaikan. Tadi Pak Rivo sempat menyebut soal tindakan kriminal?"
"Waktu itu saya melihat Nordin membawa celurit. Usia saya... mungkin baru sepuluh atau sebelas tahun, saya lupa pastinya. Yang jelas, saat itu terjadi pertengkaran hebat antara Ibu dan Nordin. Pria itu sempat pergi dari rumah selama beberapa hari, dan baru diketahui kalau kemarahannya dipicu karena Ibu bertatap muka dengan Ayah kandung saya. Padahal, Ayah dan Ibu bertemu hanya untuk membahas pendidikan dan masa depan saya—hal yang wajar. Berdiskusi dengan Nordin tidak akan ada hasilnya. Selama ini yang bekerja hanya Ibu. Yang memberi makan dan membelikan rokoknya cuma Ibu. Nordin cuma bisa ongkang-ongkang kaki di rumah. Istilahnya Handoko—Hanya Bondo Kon***."
Rivo terkekeh sinis, lalu melanjutkan.
"Hari itu saya sedang bermain dengan teman-teman, lalu dari ujung jalan menuju rumah, saya lihat Nordin berjalan sambil menyeret celurit. Dia berteriak histeris, 'Sopiah! Sopiah! Perempuan laknat! Mana kau? Berani kau menemui dia lagi? Kubacok kau! Kubunuh kau sama anakmu!' Teriakannya membuat warga berhamburan keluar berusaha menenangkan. Ibu ketakutan dan menangis histeris. Pak RT dan Pak RW berusaha menengahi. Menurut Bu Dokter, seharusnya apa yang dilakukan orang-orang saat ada ancaman seperti itu?"
Nonik mengernyitkan dahi. "Tentu saja Nordin harus dilaporkan dan ditangkap pihak berwajib atas tuduhan pengancaman dengan senjata tajam."
"Itu normalnya. Tapi bagi oknum pihak berwajib yang bisa disumpal uang seratus ribu, yang terjadi justru Ibu saya disuruh berdamai dengan Nordin—alasan klasiknya, mereka sudah jadi suami-istri. Dan lucunya, Ibu yang malah disalahkan karena menemui Ayah. Brengsek, kan? Ibu akhirnya terpaksa berjanji tidak akan menemui Ayah lagi, baru Nordin bisa ditenangkan. Kejadian itu membuat saya trauma dan takut tinggal serumah dengan mereka. Akhirnya saya memilih menetap di rumah Nenek sampai SMA," terang Rivo.
"Lalu, apa yang membuat Pak Rivo kembali atau menghadapi situasi ini lagi?" tanya Nonik.
"Inilah inti ceritanya. Semenjak kejadian Nordin membawa celurit untuk membunuh Ibu, ada masa-masa di mana ingatan saya mendadak hilang. Semacam gelap gulita. Saya tiba-tiba tersadar di sebuah tempat asing dalam kondisi yang sangat aneh. Terkadang tangan saya penuh luka sayatan, memar di tubuh, atau bekas noda darah," jawab Rivo pelan.
Nonik menajamkan tatapannya. "Apakah itu sering terjadi?"
"Sering, tapi juga tidak."
"Maksudnya?"
"Sering, karena pada fase tertentu bisa terjadi hampir tiap hari. Tapi dikatakan tidak, karena terkadang jedanya bisa sangat lama. Semua dipicu oleh sesuatu. Setiap kali merinding hebat menjalar di sekujur tubuh, setelah itu ingatan saya hilang total. Awalnya saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi lambat laun saya menyadari satu hal: sosok kepala menggelinding itu sudah tidak pernah saya lihat lagi. Saya heran... apakah saya sudah sembuh, apakah selama ini saya cuma berhalusinasi, atau... kepala itu sebenarnya arwah penasaran yang sudah bosan menampakkan diri karena saya cuma bocah polos tak berguna?"