Terapi

Archie Noir
Chapter #6

Bagian 5

Jemari Nonik mengetuk-ngetuk buku catatan yang ada di meja. Dia gugup, tentu saja. Jelas sekali pria yang ada di hadapannya ini pasti terlibat dengan sebuah tindak kejahatan kriminal. Suara detik jam dinding yang ada di ruangan itu tadi samar kini terdengar lebih jelas dari biasanya. 

Rivo masih tenang di hadapannya, mengetukkan ujung rokoknya ke asbak. Lelaki ini seolah-olah tak memiliki beban dalam menceritakan hal itu. Mayat tanpa kepala, baju bersimbah darah, apalagi yang tidak mengaitkan dia kepada peristiwa penghabisan nyawa, apalagi dia ad di TKP.

"Kalau Bu Dokter bingung, aku juga bingung. Bahkan polisi juga bingung. Jelas sekali aku ada di sana, tetapi bukti yang mengarahkan aku sebagai tersangka tidak ada. Sidik jariku tidak ada, DNA-ku tidak ada, sama sekali tidak ada. Sedangkan bajuku yang bersimbah darah itu bisa jadi tersangka menaruh darah korban kepadaku. Bahkan, dokter juga memberikan testimoni kalau aku memang mengalami gangguan otak sehingga tidak sadar berada di gedung tersebut. Aku juga pernah harus melapor setiap bulan selama setahun gara-gara hal ini, sampai kemudian aku dilepaskan, karena memang tak ada bukti," tutur Rivo.

Tenang Nonik, kamu profesional, kamu bisa mengatasi hal ini, pikir Nonik menenangkan dirinya. 

"Pak Rivo, apa yang baru saja bapak ceritakan adalah sesuatu yang serius," suara Nonik lebih berat daripada biasanya. Dia merasa orang yang ada di hadapannya ini baru saja memberi sebuah kesaksian tentang kasus pembunuhan. 

"Tenang saja, Bu Dokter. Aku bukan orang jahat, dulu aku pernah diperiksa kejiwaan oleh pihak yang berwajib. Aku memang mengalami gangguan itu. Akibat aku tidak sadar itulah polisi melepaskanku. Sebenarnya saya harusnya masuk rumah sakit jiwa, tetapi keluarga saya menolak itu dan menganggap apa yang terjadi kepada saya bisa diobati di rumah. Yah, Bu Dokter tahu sendiri masyarakat kita antipati terhadap yang namanya RSJ, mereka selalu menganggap siapapun yang masuk ke sana sudah pasti gila. Ibu saya tidak tega melihat saya dijadikan satu dengan orang-orang yang tidak waras. Makanya, saya hanya diwajibkan lapor, apalagi saya masih di bawah umur," kata RIvo.

Rivo mematikan rokoknya, dia menyesap teh yang ada di meja. "Apa yang ingin Bu Dokter lakukan untuk saya adalah membuka memori yang tertutup di dalam kepala saya," Rivo memukul-mukul pelipisnya dengan kedua jarinya, "karena saya yakin ada sesuatu di sini yang bersembunyi."

"Maksud Pak Rivo?" Nonik mengernyit. 

"Ayolah, Bu Dokter juga pasti tahu maksud saya. Sesuatu di dalam diri saya yang mengendalikan diri saya saat saya tidak sadar. Kalau memang itu ada, saya ingin Bu Dokter membantu saya untuk membunuhnya," ucap Rivo sambil menatap mata Nonik. 

"Sebentar Pak Rivo, kita perlu mengumpulkan banyak data mengenai disosiasi yang Pak Rivo alami, tentang apa pemicunya dan bagaimana itu semua bermula. Kita tidak bisa terburu-buru untuk sampai ke tahap itu. Saya perlu menyusun modul pendekatannya dan sayangnya waktu kita sudah habis," ucap Nonik sambil menatap arlojinya, "kita akan adakan janji temu sesi lagi. Kapan kira-kira Pak Rivo bisa datang lagi?"

Rivo mengangkat bahunya, "Saya bebas, kapanpun Bu Dokter ada waktu saya akan datang."

Nonik memeriksa jadwal di ponselnya, "Saya ada jadwal kosong hari Selasa dan Rabu, minggu depan. Kapan Pak Rivo bisa?"

Lihat selengkapnya